Merajut Damai di Ganra: Jejak Humanis Aiptu Jamil Mengawal Ketahanan Pangan
Keterangan Gambar:
Bhabinkamtibmas Desa Ganra, Aiptu Jamil, S.H. (berdiri), berdialog akrab dengan seorang petani (jongkok) yang sedang mempersiapkan mesin pompa air di pinggir saluran irigasi. Gambar ini merefleksikan kedekatan polisi humanis dengan masyarakat, memastikan kelancaran irigasi dan kerukunan antarpetani di Desa Ganra, Kecamatan Ganra, Soppeng, dalam rangka mendukung program ketahanan pangan nasional. (Foto: Dokumen Humas Polres Sopoeng)
Oleh: Syamsuddin Andy
SOPPENG, PALAPA INFO — Matahari pagi baru saja menyibak tirai fajar di ufuk timur, namun denyut kehidupan di Desa Ganra dan Desa Enrekeng sudah berdetak kencang. Di hamparan sawah yang menghijau, di bawah naungan langit biru yang luas, para petani telah sibuk bergelut dengan lumpur, berikhtiar menjemput rezeki dari Tuhan Sang Pemberi Kehidupan.
Di antara mereka, sosok berseragam cokelat, Bhabinkamtibmas Aiptu Jamil, S.H., melangkah tegap, membawa amanah perdamaian dan ketahanan pangan. Bagi Jamil, seragam yang ia kenakan bukanlah sekadar identitas dinas, melainkan simbol pengabdian yang melampaui batas kewajiban administratif.
"Menjaga keamanan itu bukan sekadar menangkap penjahat," tuturnya lembut namun penuh keyakinan.
"Keamanan sejatinya tumbuh dari rasa tenang dan rukun di antara sesama warga. Di sawah ini, setiap bulir padi yang tumbuh adalah berkah, dan kami hadir untuk memastikan kerukunan menjadi pupuk terbaiknya."
Di salah satu sudut sawah, suara mesin pompa air terdengar menderu, memecah keheningan pagi. Jamil mendekat, matanya yang teduh mengamati interaksi para petani yang sedang bergiliran menggunakan mesin tersebut. Ia paham, di masa sulit, setetes air adalah kehidupan. Di situlah peran kemanusiaannya diuji.
Jamil tak sekadar mengimbau; ia mendengarkan, merangkul, dan menjembatani.
Ia mengingatkan mereka tentang pentingnya kesabaran dan saling berbagi.
"Ibarat saf dalam salat, kita harus rapat dan tertib. Jangan sampai urusan air ini memecah belah persaudaraan. Koordinasi yang baik adalah kuncinya agar tak ada hati yang terluka, tak ada kesalahpahaman yang berujung konflik. Bukankah Allah menyukai hamba-Nya yang damai?" pesannya dengan nada yang menyejukkan.
Langkah Jamil berlanjut. Dari hamparan sawah yang subur, ia bergerak menuju pangkalan gas LPG. Di sinilah "gas melon" bersubsidi, penopang dapur warga, disalurkan. Jamil tidak datang untuk menakut-nakuti pengelola pangkalan, melainkan untuk memberikan edukasi dengan penuh pendekatan yang humanis. Ia menyadari sepenuhnya tanggung jawab sosial dan religius dari keadilan distribusi.
"Pengawasan ini bukan soal curiga, tapi soal amanah," jelasnya kepada pengelola pangkalan.
"Gas bersubsidi ini adalah hak masyarakat kurang mampu. Menyalurkannya tepat sasaran adalah bentuk ibadah dan keadilan. Kepatuhan terhadap aturan pemerintah dalam distribusi adalah wujud nyata dari upaya kita menjaga kerukunan dan kesejahteraan bersama."
Jamil memastikan pengelola memahami bahwa setiap tabung gas yang tersalurkan dengan benar adalah bagian dari upaya menjaga stabilitas dan kedaulatan pangan warga.
Kehadiran Jamil di tengah-masyarakat ini selaras dengan visi Kapolres Soppeng, AKBP Aditya Pradana, S.I.K., M.I.K. Menurutnya, Bhabinkamtibmas adalah pilar utama yang menyentuh langsung denyut nadi kehidupan warga.
"Tugas Polri bukan hanya menangani perkara hukum, tetapi juga menjadi agen perubahan dan pemecah masalah (problem solver). Bhabinkamtibmas adalah cerminan wajah Polri yang humanis, hadir untuk mendampingi dan memberikan solusi bagi masyarakat."
"Kehadiran Aiptu Jamil di tengah para petani dan pangkalan gas melon adalah bukti nyata bahwa polisi hadir sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan. Ini bukan sekadar tentang tugas, tapi tentang menabur benih-benih kerukunan dan keadilan di masyarakat. Sinergi antara semua elemen masyarakat adalah kunci terciptanya situasi yang aman, tertib, dan kondusif, sebagaimana kita harapkan bersama," pungkas Kapolres Aditya.
Seiring mentari yang semakin meninggi, Jamil menyelesaikan tugas sambangnya. Di wajahnya tergambar keikhlasan, sebuah kepuasan batin karena telah berupaya menjadi jembatan kedamaian.
Dari Ganra dan Enrekeng, Jamil tak sekadar mengawasi; ia telah menabur benih damai di setiap interaksinya. Langkah kakinya memang akan meninggalkan jejak di tanah sawah yang lembab, namun pesan-pesan kemanusiaan dan keadilan yang ia sampaikan akan terus terngiang, menjadi pengingat bahwa di balik tugas kepolisian, ada hati yang tulus untuk menganyam kerukunan demi kemaslahatan bersama.

Tidak ada komentar