Jejak Pengabdian yang Tak Pernah Usai: PWI Sulsel Mengantar Hormat bagi H. Murtadji S.Arwy
Keterangan Gambar:
Ketua PWI Sulawesi Selatan, Suwardi Thahir (kedua dari kiri), bersama Ketua Dewan Kehormatan Provinsi PWI Sulsel M. Dahlan Abubakar (ketiga dari kiri), Iksan Dj (kiri), dan Artani (kanan), berbincang dengan keluarga saat melayat di rumah duka almarhum H. Murtadji S.Arwy di Jalan Tamalate I, Makassar, Senin (13/7/2026). Kehadiran mereka menjadi ungkapan penghormatan atas pengabdian panjang almarhum kepada PWI Sulawesi Selatan dan dunia pers. (Foto: Istimewa)
MAKASSAR, PALAPA INFO — Ada orang-orang yang tak banyak berdiri di depan sorotan, tetapi justru menjadi tiang yang menyangga sebuah rumah agar tetap tegak. Mereka bekerja dalam senyap, merapikan yang tercecer, menguatkan yang rapuh, dan memastikan setiap langkah organisasi berjalan sebagaimana mestinya. Ketika mereka berpulang, yang ditinggalkan bukan sekadar ruang kosong, melainkan jejak pengabdian yang sulit tergantikan.
Suasana itulah yang menyelimuti kediaman duka almarhum H. Murtadji S.Arwy di Jalan Tamalate I Nomor 73, Makassar, Senin (13/7/2026). Di rumah sederhana itu, doa-doa dipanjatkan, air mata ditahan, dan kenangan tentang seorang pengabdi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan kembali dihidupkan.
Ketua PWI Sulawesi Selatan Suwardi Thahir bersama Ketua Dewan Kehormatan Provinsi (DKP) PWI Sulsel M. Dahlan Abubakar, didampingi sejumlah pengurus dan anggota PWI serta Ketua Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) Sulsel Siti Faridah, datang menyampaikan belasungkawa secara langsung kepada keluarga almarhum.
Mereka diterima oleh istri almarhum, Sukma, anak dan menantu, Artani, serta keluarga besar yang masih larut dalam duka. Kehadiran rombongan bukan sekadar memenuhi tradisi takziah, melainkan bentuk penghormatan kepada sosok yang selama puluhan tahun mengabdikan dirinya bagi organisasi wartawan tanpa banyak meminta penghargaan.
Kepergian H. Murtadji pada Minggu malam (12/7/2026) menjadi kabar yang mengguncang keluarga besar PWI Sulawesi Selatan. Ucapan Innalillahi wa inna ilaihi raji'un mengalir melalui berbagai saluran komunikasi, disertai doa agar Allah SWT menerima seluruh amal ibadahnya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di sisi terbaik-Nya.
Bagi Suwardi Thahir, almarhum bukan sekadar mantan Kepala Sekretariat PWI Sulsel. Ia adalah teladan tentang bagaimana sebuah organisasi dibangun bukan hanya oleh mereka yang tampil di podium, tetapi juga oleh tangan-tangan yang setia bekerja di balik layar.
Menurutnya, almarhum dikenal memiliki ketelitian, disiplin, dan tanggung jawab yang tinggi. Pelayanan administrasi, pengurusan surat-menyurat, perpanjangan Kartu Tanda Anggota (KTA), hingga penagihan iuran anggota dijalankannya dengan penuh kesabaran, keramahan, dan rasa hormat kepada setiap insan pers.
"Cara kerja almarhum yang memudahkan anggota memperpanjang KTA menjadi inspirasi bagi kami untuk terus membangun PWI Sulsel sebagai organisasi yang inklusif dan memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh anggota," ujar Suwardi Thahir.
Pengabdian H. Murtadji kepada dunia pers sesungguhnya telah dimulai jauh sebelum namanya dikenal sebagai Kepala Sekretariat PWI Sulsel. Lahir di Bogor pada 6 April 1940, ia telah berkecimpung dalam dunia jurnalistik sejak 1964, lalu resmi menjadi anggota PWI pada 1968.
Sebelum mengabdi di Makassar, ia pernah bertugas sebagai staf Sekretariat Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) Pusat di Jakarta dan menjadi koresponden sejumlah media massa. Pengalaman panjang itu membentuk karakter pengabdi yang memahami denyut organisasi sekaligus menghargai setiap insan pers.
Hingga akhir hayatnya, H. Murtadji masih tercatat sebagai Anggota PWI Seumur Hidup dengan Nomor KTA 23.00.0616.68. Sebuah pengakuan yang bukan sekadar administrasi, melainkan simbol kesetiaan yang dipersembahkan sepanjang hidupnya.
Dalam pandangan iman, manusia boleh meninggalkan dunia, tetapi amal yang dikerjakan dengan ikhlas akan terus mengalir menjadi cahaya. Begitu pula jejak H. Murtadji S.Arwy. Mungkin namanya tak selalu menghiasi halaman depan surat kabar, tetapi dedikasinya telah membantu banyak wartawan menjalankan profesinya dengan lebih mudah dan lebih bermartabat.
Pada akhirnya, seorang pengabdi sejati tidak diukur dari seberapa sering ia disebut, melainkan dari seberapa besar manfaat yang ia tinggalkan. Dan di ruang duka itu, keluarga besar PWI Sulawesi Selatan seolah sedang belajar kembali bahwa pengabdian yang lahir dari keikhlasan tidak pernah benar-benar berakhir. Ia akan terus hidup dalam doa, kenangan, dan setiap langkah organisasi yang pernah ia rawat dengan sepenuh hati. (*/Masykur Thahir)

Tidak ada komentar