Breaking News

Mengusap Air Mata di Mattugengkeng: Ranjang Abu dan Keteguhan yang Tersisa



KETERANGAN GAMBAR:

Wujud Nyata Empati: Kapolsek Pitumpanua AKP Andi Suhidin, SH., M.Si., bersama Ketua Ranting Bhayangkari Pitumpanua Ny. Asmawati Andi Suhidin, menyerahkan secara simbolis bantuan sembako langsung kepada korban kebakaran, Ibu Hasnawati, di atas reruntuhan rumahnya di Lingkungan Mattugengkeng, Kelurahan Siwa, Kecamatan Pitumpanua, Kabupaten Wajo, Senin pagi (20/7/2026). Aksi kemanusiaan ini ditujukan untuk meringankan beban moril dan materiil keluarga korban pascamusibah kebakaran yang terjadi pada Sabtu (18/7) lalu. (Foto: Dok. Humas Polres Wajo)


Oleh: Sabri


WAJO, PALAPA INFO – Sabtu senja yang luruh pada 18 Juli 2026, sekitar pukul 18.20 Wita, mendadak berubah menjadi tirai kelam di Lingkungan Mattugengkeng, Kelurahan Siwa, Kecamatan Pitumpanua, Kabupaten Wajo. Ketika azan Magrib baru saja berkumandang mengantarkan kedamaian, api berkecamuk hebat, melahap habis kediaman Hasnawati. Dalam sekejap mata, rumah tempat bernaung runtuh menjadi sehamparan abu, menyisakan puing-puing hitam dan duka yang mendalam di palung hati pemiliknya. Kehilangan materi tak terhindarkan, namun yang lebih menyayat adalah runtuhnya separuh jiwa akibat ujian yang mahaberat dari Sang Pencipta.

Namun, di balik tebalnya kabut duka, Tuhan selalu menyisipkan jemari-jemari penolong sebagai perpanjangan tangan kasih-Nya. Pada Senin pagi (20/7/2026) sekitar pukul 09.45 Wita, keheningan puing-puing Mattugengkeng berganti menjadi ruang kehangatan kemanusiaan. 

Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Pitumpanua, AKP Andi Suhidin, SH., M.Si., hadir membawa seberkas cahaya harapan. Tidak sendiri, ia didampingi oleh Ketua Ranting Bhayangkari Pitumpanua, Ny. Asmawati Andi Suhidin, beserta segenap personel Polsek dan deretan pengurus Bhayangkari.

Kehadiran korps berseragam cokelat dan ibu-ibu bergaun merah muda ini bukan sekadar prosesi formalitas birokrasi, melainkan sebuah panggilan nurani yang mengetuk pintu empati. Langkah kaki mereka mengalun lembut di atas tanah yang masih berbau hangus, membawa paket bantuan sembako yang sarat akan makna kepedulian. 

Di hadapan Hasnawati yang masih terpaku menatap reruntuhan, bantuan itu diulurkan dengan ketulusan yang mendalam, sebuah pesan tak tertulis bahwa ia tidak pernah sendirian berdiri dalam badai ini.

Di tengah suasana yang sarat haru, AKP Andi Suhidin merengkuh keteguhan hati keluarga korban dengan untaian kata yang menyejukkan. Kehadiran Polri di titik krusial kemalangan masyarakat merupakan wujud nyata dari ikatan spiritualitas dan kemanusiaan yang kokoh.

"Kami turut berduka sedalam-dalamnya atas musibah yang menimpa Ibu Hasnawati beserta seluruh keluarga. Di balik setiap cobaan yang digariskan oleh Allah SWT, kita senantiasa diajarkan untuk bersabar dan percaya bahwa akan ada hikmah yang indah setelah ini. Melalui bantuan sembako yang ala kadarnya ini, kami berharap dapat sedikit meringankan beban dan menopang kebutuhan sehari-hari. Kami berdoa agar keluarga senantiasa diberi kekuatan ekstra dan semangat yang tak padam. Polsek Pitumpanua berkomitmen penuh untuk terus bersinergi dengan pemerintah daerah dan segenap elemen masyarakat demi mempercepat proses pemulihan pascakebakaran," ujar AKP Andi Suhidin dengan nada berwibawa namun penuh kelembutan.

Sebagai bentuk tanggung jawab moral terhadap keselamatan warganya di masa depan, Kapolsek juga menyelipkan imbauan yang bijaksana. Beliau mengingatkan seluruh masyarakat Siwa untuk memelihara kewaspadaan, senantiasa memeriksa instalasi listrik, serta memastikan penggunaan api di dalam rumah berada dalam kondisi aman. Baginya, mencegah musibah adalah bagian dari ikhtiar menjaga keselamatan jiwa yang dititipkan oleh Yang Maha Kuasa.

Jarum jam menunjukkan pukul 10.30 Wita ketika rombongan pamit undur diri, meninggalkan lokasi dalam situasi yang aman, tertib, dan kondusif. Langkah kaki mereka mungkin menjauh, namun kehangatan yang ditinggalkan telah membekas dalam di sanubari Hasnawati. Paket-paket sembako itu kini tersimpan di tempat penampungan sementara, menjadi bukti sahih bahwa ketika api menghanguskan harta benda, api kemanusiaan dan kepedulian antarsesama justru menyala jauh lebih terang, merajut kembali harapan yang sempat lumat.

Tidak ada komentar