Breaking News

Pulangnya Seorang Ibu: Doa, Kenangan, dan Cahaya yang Tak Pernah Padam

Ilustrasi


Penulis: Alimuddin


Langit siang itu seakan meredup perlahan, ketika kabar duka datang mengetuk hati, pelan, namun dalam. Di ujung sambungan telepon, Kamis, 30 April 2026 pukul 13.59 WITA, suara lirih membawa berita yang tak pernah benar-benar siap diterima siapa pun: seorang ibu telah kembali ke pangkuan Ilahi.

“Innalillahi wainna ilaihi raji’un…”

Ibunda tercinta dari Alimuddin, Pemimpin Redaksi Palapa Media Group, St. Sapinah Dg. Tasakking, mengembuskan napas terakhirnya, meninggalkan dunia yang pernah ia rawat dengan kasih yang tak terukur. Duka itu bukan hanya milik keluarga, tetapi juga merambat pelan ke ruang-ruang redaksi, menyelimuti hati para jurnalis yang mengenal hangatnya sosok seorang ibu di balik nama besar seorang anak.

Di rumah duka, di Jalan Lapawawoi Karaeng Sigeri, Watampone, jenazah almarhumah disemayamkan. Di sana, doa-doa mengalir seperti sungai yang tak pernah kering. Isak tertahan, pelukan hangat, dan tatapan kehilangan berpadu dalam satu suasana yang sakral, sebuah perpisahan yang penuh keikhlasan, meski tak pernah mudah.

Keesokan harinya, Jumat yang penuh berkah, 1 Mei 2026, almarhumah diantar ke peristirahatan terakhirnya di Taman Pekuburan Islam Lappae, Kecamatan Tellu Siattinge, Kabupaten Bone. Tanah yang memeluknya kini menjadi saksi perjalanan panjang seorang perempuan yang telah menunaikan tugasnya di dunia: menjadi ibu, menjadi peneduh, menjadi pelita dalam gelap.

Waktu seperti berputar ke belakang. Enam belas tahun silam, sang suami, Usman Abidin, seorang pensiunan PNS, lebih dahulu menghadap Sang Maha Pencipta. Kini, dua jiwa yang pernah dipersatukan dalam ikatan suci itu kembali dipertemukan dalam keabadian. Sebuah perjumpaan yang tak lagi dipisahkan oleh ruang dan waktu.

Dari rahimnya lahir anak-anak yang kini berdiri di sekeliling kepergiannya, menatap dengan mata yang basah namun penuh doa: Anwar Taat dari Palu, Alimuddin dari Soppeng, Artati, Arifin, Asmiati, dan Abd. Azis di Bone. Mereka adalah jejak-jejak kehidupan yang ditinggalkan, warisan cinta yang akan terus hidup, bahkan ketika raganya telah tiada.

St. Sapinah Dg. Tasakking lahir di Panyula, Kecamatan Tanete Riattang, Kabupaten Bone, pada tahun 1920, sebuah masa yang jauh sebelum banyak perubahan zaman datang silih berganti. Ia adalah saksi hidup perjalanan waktu, yang menua dengan kesabaran dan kebijaksanaan, serta menua dalam cinta yang tak lekang.

Kepergiannya meninggalkan sunyi yang dalam, namun juga menghadirkan pelajaran tentang keteguhan, keikhlasan, dan makna sebuah pengabdian tanpa pamrih.

Di tengah duka yang menyelimuti, keluarga besar Palapa Media Group menundukkan kepala, merapatkan doa, dan mengirimkan harap ke langit yang Maha Mendengar. Semoga setiap langkah kebaikan almarhumah diterima sebagai amal jariyah, setiap khilaf diampuni, dan kuburnya dilapangkan serta diterangi cahaya rahmat-Nya.

Karena sesungguhnya, kepergian seorang ibu bukanlah akhir, melainkan pulang. Pulang kepada Dia yang Maha Memiliki, dengan membawa seluruh cinta yang pernah ia tanamkan di dunia.

Tidak ada komentar