Menyemai Harmoni di Meja Kopi: Catatan May Day dari Wajo
Keterangan Gambar:
SINERGI BURUH DAN POLRI: Kapolres Wajo, AKBP Muhammad Rosid Ridho (tengah), didampingi jajaran pejabat utama Polres Wajo, saat berdialog santai dalam acara Coffee Morning bersama pengurus KSBSI Kabupaten Wajo di Warkop Hitam Putih, Jumat (1/5/2026). Kegiatan ini digelar untuk memperingati Hari Buruh Internasional dengan mengedepankan pendekatan humanis.
Oleh: Sabri
Hari Buruh Internasional atau yang populer dengan sebutan May Day, sering kali identik dengan kepalan tangan di udara, orasi yang menggelegar, dan barisan massa di jalanan. Namun, di Kabupaten Wajo, peringatan 1 Mei 2026 kali ini memiliki warna yang berbeda. Tidak ada ketegangan, yang ada hanyalah aroma kopi yang mengepul di Warkop Hitam Putih, Jalan Sawerigading.
Di atas meja kayu yang sederhana, sekat-sekat antara aparat penegak hukum dan aktivis buruh seolah mencair. Kapolres Wajo, AKBP Muhammad Rosid Ridho, duduk berdampingan dengan Abdul Kadir Nongko, Ketua FPE KSBSI Kabupaten Wajo. Pertemuan bertajuk Coffee Morning ini bukan sekadar seremoni formalitas, melainkan sebuah simbol diplomasi budaya "tudang sipulung" yang humanis.
Bagi buruh, May Day adalah altar perjuangan. Abdul Kadir Nongko dalam kesempatannya menegaskan sebuah pesan fundamental: pertumbuhan ekonomi daerah tidak boleh berdiri di atas pengabaian hak-hak pekerja. Ia menyoroti isu sensitif mengenai union busting atau larangan berserikat yang masih membayangi dunia kerja. Baginya, menghormati hak buruh bukan hanya soal keadilan sosial, melainkan prasyarat mutlak bagi iklim investasi yang sehat.
Pesan ini disambut dengan tangan terbuka oleh pihak kepolisian. Kapolres Wajo memahami bahwa keamanan wilayah (Kamtibmas) tidak bisa dipaksakan melalui tindakan represif, melainkan harus dibangun melalui komunikasi yang jujur. Dengan memosisikan buruh sebagai mitra strategis dalam pembangunan, Polri berupaya meruntuhkan tembok pembatas. Buruh bukanlah ancaman bagi stabilitas, melainkan roda penggerak ekonomi yang harus dijaga kesejahteraannya.
Pendekatan "soft approach" yang dikedepankan oleh Polres Wajo melalui Kasi Humas Iptu Kaomi menunjukkan wajah kepolisian yang lebih moderat. Di era modern ini, segelas kopi sering kali lebih ampuh menyelesaikan kebuntuan dialog dibandingkan barikade kawat berduri.
Kegiatan ini memberikan pelajaran berharga bagi kita semua: bahwa aspirasi tidak selamanya harus disampaikan dengan urat syaraf yang tegang. Ketika ruang dialog dibuka lebar, ketika tuntutan hak buruh didengarkan dengan empati, dan ketika aparat hadir sebagai pelindung yang merangkul, maka harmoni bukan lagi sekadar angan-angan.
Dari Warkop Hitam Putih, Wajo mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru negeri; bahwa merayakan hari buruh bisa dilakukan dengan cara yang teduh, penuh keakraban, namun tetap sarat akan substansi perjuangan. Karena pada akhirnya, stabilitas dan keadilan adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

Tidak ada komentar