Breaking News

Jejak Langkah Henry Mappesona di Hari Kemenangan: Maaf yang Tulus, Doa yang Mengangkasa ke Langit Fitri 1447 H



Keterangan Gambar:

KERENDAHAN HATI DI HARI FITRI: Mengenakan busana bernuansa elegan, Henry Mappesona dan Nurul Fitriani membagikan pesan tulus menyambut Idul Fitri 1447 H. Ucapan "Mohon Maaf Lahir dan Batin" yang disampaikan bukan sekadar tradisi, melainkan wujud kesungguhan untuk mempererat tali silaturahmi dan merayakan kemenangan setelah sebulan penuh beribadah.






Gema takbir mulai memudar, digantikan oleh syahdunya lantunan tasbih dan tahmid yang menenangkan jiwa. Di tengah keramaian kota Jakarta yang tak pernah tidur, ada sesosok pria yang merenung dalam kesunyian, merenungi perjalanan hidup yang penuh liku dan makna. Pria itu adalah Henry Mappesona, seorang profesional dan akademisi yang tak pernah melupakan akar spiritualnya.

Momentum Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah ini, baginya, bukanlah sekadar perayaan tahunan, melainkan sebuah titik balik untuk kembali ke fitrah, membersihkan hati dari noda dan dosa. Melalui pesan yang disampaikan dari lubuk hati terdalam, Henry Mappesona bersama sang istri tercinta, Nurul Fitriani, menyampaikan permohonan maaf yang tulus dan ikhlas kepada seluruh sanak saudara, sahabat, dan relasi, baik yang dekat maupun jauh.

"Permohonan maaf kami bukanlah sekadar formalitas tahunan," ujar Henry Mappesona dengan nada yang sarat makna. "Ini adalah wujud kerendahan hati dan kesadaran kami untuk kembali ke fitrah, untuk memulai lembaran baru yang lebih suci dan harmonis." 

Permohonan maaf yang tulus ini, baginya, adalah langkah awal untuk merajut kembali tali silaturahmi yang mungkin sempat terputus, untuk mempererat hubungan yang penuh kasih dan rahmat.

Henry Mappesona, putra dari almarhum Prof. Dr. H. Andi Mustari Pide, S.H., M.H., seorang akademisi terkemuka berdarah Bugis, dan almarhumah Hj. Dr. Erawaty Toelis, M.M., seorang akademisi dan profesional berdarah Minangkabau, tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan nilai-nilai akademik dan spiritual. Pendidikan yang ditempuhnya, dari Indonesia hingga mancanegara, seperti Australia, Inggris, dan Malaysia, tak hanya membekalinya dengan ilmu pengetahuan yang luas, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas yang kuat.

Kini, Henry Mappesona, yang menetap di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, berkiprah sebagai konsultan di berbagai proyek, baik di institusi pemerintah maupun non-pemerintah. Di tengah kesibukan profesionalnya yang padat, ia tak pernah melupakan nilai-nilai keluarga dan spiritualitas yang menjadi landasan hidupnya.

Momentum Idul Fitri ini, baginya, adalah waktu yang tepat untuk menepi dari hiruk-pikuk dunia, merenung, dan mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta.

Dalam pesan penutupnya, Henry Mappesona menyisipkan doa yang tulus dan ikhlas: 

"Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita, membersihkan noda di hati kita, dan mempersatukan kembali dalam ikatan silaturahmi yang penuh hikmah dan rahmat." 

Sebuah doa yang menggema lembut di tengah keheningan malam, mengangkasa ke langit Fitri yang suci.

Henry Mappesona, dengan jejak langkahnya yang penuh makna, mengingatkan kita bahwa di balik kesuksesan dan perjalanan panjang seseorang, selalu ada ruang untuk kembali merunduk, meminta maaf, dan memulai lagi dari hati yang bersih. Sebuah pengingat yang menyentuh hati, di Hari Kemenangan yang penuh berkah.

Tidak ada komentar