Delapan Nama dalam Senyap: Ketika Takdir Digeser di Ujung Pena
Ilustrasi
Oleh: Alimuddin
SOPPENG — Pagi itu, 30 September 2025, langit Soppeng murung. Hujan turun dengan ritme yang lambat, seolah ingin menyembunyikan jejak-jejak tinta yang sedang mengering di atas lembaran kertas negara. Di sebuah meja, sebuah Surat Keputusan (SK) Bupati ditandatangani. Di dalamnya, tertera delapan nama.
Bagi delapan honorer di Sekretariat DPRD Soppeng, nama-nama itu bukan sekadar deretan huruf. Mereka adalah simbol dari pengabdian yang bertahun-tahun dirawat dalam kesetiaan. Namun, di balik rintik hujan hari itu, nasib mereka digeser tanpa suara. Tanpa persetujuan, tanpa jabat tangan perpisahan, mereka dipindahkan ke tempat yang tak pernah mereka tuju: Sekretariat Daerah.
Sebuah Pengabdian yang Dikhianati Administrasi
Dalam dunia birokrasi yang kaku, garis instruksi seharusnya lurus dan terang. Dari pintu OPD menuju BKPSDM, lalu bermuara di meja BKN untuk memetik Nomor Induk Pegawai (NIP).
Aturannya saklek: mengubah penempatan berarti mengubur harapan, dianggap mengundurkan diri.
Delapan jiwa ini telah menunaikan kewajiban mereka. Pada 8 Agustus 2025, di bawah sumpah Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTJM), mereka mengikat janji. Lalu, pada 22 September, mereka menandatangani rencana penempatan di "rumah" mereka sendiri: Sekretariat DPRD.
Namun, hanya dalam delapan hari—sebuah rentang waktu yang singkat bagi manusia, tapi cukup lama bagi sebuah intrik untuk bekerja, semuanya berubah. Saat SK Bupati mendarat pada 30 September, rumah yang mereka jaga selama bertahun-tahun tiba-tiba menjadi asing. Mereka dipindahkan secara paksa secara administratif ke Sekretariat Daerah.
Rumah yang Kehilangan Penghuninya
Mereka bukan sekadar angka dalam statistik pegawai. Mereka adalah denyut nadi di ruang kerja Ketua DPRD Soppeng. Mereka adalah protokol yang menjaga martabat lembaga, administratif yang merapikan carut-marut kepentingan.
Kini, Sekretariat DPRD layaknya sebuah rumah besar yang ditinggalkan penghuninya saat fajar menyingsing. Ironisnya, rumah yang mengusulkan mereka untuk sejahtera, justru menjadi pihak yang paling kehilangan. Sebuah kursi kosong di ruang protokol kini menjadi saksi bisu betapa rentannya posisi seorang abdi negara di hadapan sebuah keputusan yang "senyap".
Labirin Kebohongan: Siapa yang Membelokkan Pena?
Ketua DPRD Soppeng, Andi Muhammad Farid (AMF), tak tinggal diam melihat "pasukannya" dipreteli. Pada sebuah Rabu yang tegang di pengujung Desember, ia mengetuk pintu BKPSDM. Namun, jawaban yang ia terima dari Rusman, sang Kabid Pengadaan, hanyalah sebuah telunjuk yang mengarah ke atas: "BKN yang mengubahnya."
Namun, di Makassar, kebenaran menemukan suaranya sendiri. Jais, sang penjaga gerbang administrasi di BKN Regional Makassar, bicara dengan nada yang tak menyisakan ruang bagi keraguan.
"Tak satu pun tulisan, koma, atau titik yang diubah," tegas Jais. BKN hanyalah cermin; mereka memantulkan apa yang dikirimkan daerah.
Pernyataan itu bak petir di siang bolong bagi birokrasi Soppeng. Jika BKN tak menyentuh naskah itu, lantas di meja mana, di bawah lampu remang siapa, delapan nama itu dihapus dan ditulis ulang? Hanya dalam delapan hari, antara 22 hingga 30 September, sebuah konspirasi administratif seolah bekerja di balik tirai.
Luka yang Berujung pada Laporan Polisi
Kini, persoalan ini bukan lagi sekadar soal mutasi pegawai. Ia telah menjadi luka yang bernanah. Pertemuan di ruang BKPSDM itu kini berlanjut ke meja hijau kepolisian. Dugaan tindak pidana mencuat, menyeret nama pimpinan legislatif dan pejabat eksekutif ke dalam pusaran hukum yang melelahkan.
Persoalan laporan Rusman ke Polisi ini biarlah polisi yang bekerja sesuai SOP-nya.
BKN berjanji akan turun ke Bumi Latemmamala untuk membasuh nama baik lembaga mereka. Namun, di luar segala urusan hukum dan ego kekuasaan, ada delapan nasib manusia yang kini terkatung-katung dalam ketidakpastian.
Di sudut-sudut Sekretariat DPRD Soppeng, kursi-kursi itu masih dingin. Sunyi yang ditinggalkan delapan nama ini menjadi pengingat bagi kita semua: bahwa di negeri ini, pengabdian bertahun-tahun bisa kalah hanya oleh gerakan pena yang dilakukan dalam senyap, di balik pintu-pintu kantor yang tertutup rapat.

Tidak ada komentar