Kala Ketulusan Polwan Menyentuh Hati Rakyat
Ilustrasi
Penulis: Alimuddin
Pemred Group Media Suara Palapa (Majalah Suara Palapa, Palapainfo.com dan Suarapalapa.id)
Ada pagi-pagi tertentu yang tak hanya ditandai oleh matahari yang terbit dari ufuk timur, tetapi juga oleh hadirnya harapan yang berjalan pelan di antara rumah-rumah kayu dan lorong-lorong sempit kota kecil. Jumat, 9 Januari 2026, adalah salah satu pagi itu.
Di bawah langit yang teduh, ketika Kota Watansoppeng masih menggeliat dari sisa kantuknya, para Srikandi Bhayangkara menjejakkan langkah bukan sebagai penegak hukum yang menghardik, melainkan sebagai sesama manusia yang ingin berbagi.
Mereka datang bukan membawa sirene, bukan pula peringatan. Yang mereka genggam adalah kotak-kotak sederhana berisi kebutuhan pokok, namun di dalamnya tersimpan sesuatu yang jauh lebih mahal dari sekadar beras dan mie instan: kepedulian.
Di tengah wajah hukum yang kerap terasa dingin dan berjarak, Polwan Polres Soppeng menghadirkan wajah lain dari negara, wajah yang ramah, menunduk, dan mau mendengar.
Ketika Perintah Berjumpa Nurani
Program Jumat Berkah bukanlah sekadar agenda mingguan. Ia adalah cermin dari sebuah pilihan sikap: bahwa kepatuhan kepada pimpinan dapat berjalan seiring dengan kepatuhan kepada nurani.
Dipimpin IPTU Cietra Ariesta, S.Psi., para Polwan menyusuri sudut-sudut Watansoppeng. Mereka menyapa penyapu jalan, mengetuk pintu rumah-rumah renta, dan berhenti di bangku-bangku kayu tempat para lansia menunggu hari dengan sabar.
Di hadapan mereka, IPTU Cietra tak berdiri sebagai perwira semata, tetapi sebagai seorang anak bangsa yang memahami bahwa jabatan hanyalah sarana, sementara kemanusiaan adalah tujuan.
“Kami hadir bukan hanya menjalankan perintah pimpinan, tapi menjawab panggilan hati,” ucapnya pelan, sebuah kalimat sederhana yang menegaskan bahwa di tubuh Polri masih berdenyut nurani.
Senyum yang Tak Tercatat di Laporan Resmi
Puluhan paket diserahkan. Namun yang lebih membekas bukan jumlahnya, melainkan ekspresi wajah yang menyertainya: tangan-tangan renta yang bergetar saat menerima, mata yang berkaca-kaca, dan senyum yang merekah pelan, senyum orang-orang yang mungkin jarang merasa diperhatikan.
Bagi mereka, kehadiran Polwan bukan sekadar bantuan. Ia adalah pengakuan. Bahwa negara masih ingat, masih melihat, dan masih peduli.
Di situlah Jumat Berkah menemukan maknanya yang paling sunyi sekaligus paling kuat: mengembalikan martabat mereka yang nyaris luput dari pandangan.
Wajah Polri yang Ingin Dihadirkan
Kapolres Soppeng, AKBP Aditya Pradana, S.I.K., M.I.K., memberi apresiasi pada gerakan kecil yang berdampak besar ini. Baginya, Polri tidak boleh hanya hadir sebagai penjaga ketertiban, tetapi juga sebagai penjaga rasa aman dan rasa dihargai.
“Polri harus menjadi penyejuk, bukan sekadar penegak aturan,” ujarnya.
Di Soppeng, kalimat itu tidak berhenti sebagai slogan. Ia menjelma menjadi langkah kaki, uluran tangan, dan senyum yang tak pernah tercatat di lembar laporan, tetapi tinggal lama di ingatan masyarakat.
Menanam Kebaikan, Menjaga Negeri
Barangkali keamanan tidak hanya dijaga oleh patroli dan razia. Barangkali, ia juga tumbuh dari doa-doa lirih para lansia yang hari itu merasa diperhatikan. Dari senyum penyapu jalan yang pulang dengan hati lebih ringan. Dari rasa percaya yang pelan-pelan tumbuh kembali.
Di situlah Polres Soppeng sedang menanam sesuatu yang lebih dalam dari sekadar citra: mereka sedang menanam kepercayaan.
Dan kepercayaan, seperti berkah, selalu menemukan jalannya sendiri, di sepanjang jalan-jalan kecil Soppeng.

Tidak ada komentar