Breaking News

Dr. Muhammad Aras : Napak Tilas "Sang Maha Guru dari Bugis", Almaghfuroh KH. Abdurrahman Ambo Dalle



Akhir pekan yang penuh dengan nuansa religius sangat kentara memberikan kesan spiritual. Seakan kembali ke masa lalu di mana sebuah perjuangan terus dilakukan tanpa henti tak kenal lelah. 


Hari ini, puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah berkesempatan untuk berziarah ke Makam Guru Mulia, Anregurutta KH. Abdurrahman Ambo Dalle, Barru.(Sabtu, 28/08/2021).


Pekan yang begitu berkesan, setelah disibukkan dengan berbagai aktivitas pekerjaan yang cukup menyita energi fisik dan pikiran. Elok rasanya menyempatkan waktu untuk mengenang sejarah-sejarah pergerakan para ulama di Tanah Sulawesi sebagai bagian dari momentum refleksi HUT Kemerdekaan RI yang ke-76. 


Teringat sebuah judul buku karya Nazaruddin yang berjudul "AMBO DALLE MAHA GURU DARI BUMI BUGIS". Yang menerangkan bagaimana perjalanan hidup dan perjuangan beliau sehingga menjadi seorang tokoh besar yang mendapatkan penghargaan tanda penghormatan bintang MAHAPUTRA NARARYA di masa Presiden BJ. Habibie tahun 1999.



Bukan tanpa sebab, penghargaan itu merupakan sebuah dedikasi negara kepada seorang tokoh ulama besar karena jasa-jasanya yang telah turut mencerdaskan rakyat melalui pendidikan agama dengan metode-metode yang relevan.


Beliau, Sang Maha Guru yang juga pendiri Darud Da'wah Wal Irsyad (DDI) Mangkoso, Kabupaten Barru. Merupakan sosok yang fasih dalam membaca Alquran, memahami kitab-kitab klasik yang disajikan baik dengan sistem monolog atau sorogan dalam istilah pesantren, menyulut semangat perjuangan santri dan masyarakat zaman penjajahan Jepang menjadi bukti bahwa nilai-nilai agama Islam yang tersebar di bumi  Nusantara ini mampu menjadi corong pergerakan melawan tirani. 


Selain itu, meski pendidikan agama dan doktrin pesantren sangat kental pada diri beliau, hal itu tidak membuat ia anti terhadap pendidikan formal yang diadakan oleh pihak Belanda. Tercatat beliau merupakan lulusan Sekolah Rakyat (Volks School) di masanya. 


Sementara itu, untuk memperluas cakrawala keilmuan, terutama wawasan modernitas, Ambo Dalle lalu berangkat meninggalkan Wajo menuju kota Makassar. Di kota ini, ia mendapatkan pelajaran tentang cara mengajar dengan metodologi baru melalui Sekolah Guru yang diselenggarakan Syarikat Islam (SI). Kala itu, SI yang dipimpin oleh HOS Cokroaminoto berada dalam masa kejayaan dan benar-benar membuka tabir kegelapan bagi wawasan sosial, politik, dan kebangsaan di seluruh Tanah Air.



Berguru pada ulama-ulama terkemuka alumni Mekkah seperti H. Syamsuddin dan Sayyid Ali Al Ahdal, tidak lantas merubah pola perjuangan serta kecintaannya pada tanah air. 


Bahkan menurut cerita di masyarakat, pernah suatu ketika salah seorang guru Ambo Dalle, yakni AGH. Muhammad As'ad Al-Bugisi yang dikenal oleh masyarakat Wajo dengan sapaan Gurutta Puang Aji Sade, suatu ketika menguji secara lisan murid-muridnya, termasuk Ambo Dalle. Ternyata, jawaban Ambo Dalle dianggap yang paling tepat dan benar. Maka, sejak saat itu, ia diangkat menjadi asisten dan mulai meniti karier mengajar serta secara intens menekuni dunia pendidikan.


Berkat kerja sama antara Gurutta H. As'ad dan Ambo Dalle, pengajian itu bertambah maju. Hal tersebut terdengar sampai ke telinga Raja Wajo saat itu, Arung Matoa Wajo. Arung Matoa Wajo pun memutuskan mengadakan peninjauan langsung ke tempat pengajian milik Gurutta H. As'ad. 



Dalam kunjungannya, Raja Wajo ini meminta agar Gurutta H. As'ad membuka sebuah madrasah yang seluruh biayanya ditanggung pemerintah setempat. Gayung bersambut. Maka, tak lama kemudian, dimulailah pembangunan madrasah.


Selanjutnya, atas izin sang guru, Ambo Dalle pindah dan mendirikan MAI di Mangkoso pada 29 Syawal 1356 H atau 21 Desember 1938. Mulai saat itulah, ia mendapat kehormatan penuh dari masyarakat dengan gelar Gurutta Ambo Dalle. MAI Mangkoso ini kelak menjadi cikal bakal kelahiran organisasi pendidikan keagamaan bernama Darud Dakwah Wal Irsyad (DDI).


Pada akhirnya, saya sebagai pribadi yang sangat mengagumi perjalan hidup beliau berharap bahwa seluruh perjuangannya dapat ditiru dan dilanjutkan oleh generasi penerus di masa kini, khususnya Sulawesi Selatan, sehingga harmonisasi antara nilai-nilai agama Islam dan nilai luhur bangsa ini bisa berdampingan, bersama saling menguatkan dalam setiap tindak-tanduknya.



Tidak ada komentar