Breaking News

Menyemai Karakter di Rumput Hijau: Catatan dari Lapangan Hikmat Takalala


Keterangan Gambar:

SEPAK MULA KARAKTER: Camat Marioriwawo, Andi Ashar Afwan (tengah, berpakaian dinas dinas cokelat), melakukan tendangan pertama (kick-off) sebagai tanda dibukanya secara resmi kompetisi sepak bola Liga Anak Mario Cup II 2026 di Lapangan Hikmat Takalala, Kelurahan Tettikenrarae, Soppeng, Selasa (2/6/2026). Prosesi ini disaksikan langsung oleh jajaran panitia, aparat TNI-Polri (Danramil dan Kapolsek), serta perangkat pertandingan setempat. (Foto: Sanusi Muda)


Penulis: Sanusi Muda


SOPPENG — Riuh rendah suara anak-anak memecah keheningan sore di Lapangan Hikmat Takalala, Kelurahan Tettikenrarae, Kecamatan Marioriwawo. Di atas lapangan hijau yang bersahaja itu, sebuah asa besar tentang masa depan generasi muda Kabupaten Soppeng sedang ditandang secara resmi melalui sepak mula Liga Anak Mario Cup II tahun 2026.

Sepak bola kerap kali dipandang sekadar instrumen hiburan rakyat penawar penat. Namun, di tangan panitia pelaksana yang berkolaborasi dengan Putra Mario serta Kerukunan Keluarga Guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (KKG PJOK), ajang ini bertransformasi menjadi sebuah laboratorium pembentukan karakter. 

Lapangan hijau berubah fungsi menjadi ruang kelas terbuka tempat disiplin, kerja keras, dan sportivitas diajarkan tanpa sekat teoritis.

Apresiasi mendalam pun datang langsung dari Camat Marioriwawo, Andi Ashar Afwan. Saat membuka pergelaran ini secara resmi pada Selasa, 2 Juni 2026, ia menegaskan bahwa substansi kompetisi ini jauh melampaui urusan menang atau kalah. Baginya, turnamen ini adalah benteng pertahanan bagi fisik dan mental anak-anak di tengah gempuran era digitalisasi yang cenderung melahirkan generasi instan dan pasif dalam aktivitas luar ruang.

"Selain memberi tontonan yang sehat bagi masyarakat, anak-anak kita di sini dididik secara nyata melalui olah fisik dan penempaan mental agar tumbuh menjadi pribadi yang sehat jasmani dan rohani," tutur Andi Ashar Afwan dengan penuh optimisme.

Geliat turnamen kali ini terasa jauh lebih semarak dan kompetitif dibanding edisi perdana. Berdasarkan laporan Ketua Panitia, Syahrir Amin, sebanyak 34 tim dari tingkat Sekolah Dasar (SD) serta 6 tim tangguh dari tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di wilayah Kecamatan Marioriwawo siap menguras keringat hingga 16 Juni mendatang. 

Guna memacu gelora bertanding, panitia tidak hanya memperebutkan piala bergilir dan trofi gengsi, melainkan juga menyiapkan total uang pembinaan sebesar Rp 10 juta.

Kehadiran para pemangku kebijakan lokal seperti Kapolsek, Danramil Kecamatan Marioriwawo, para kepala sekolah, guru, hingga barisan orang tua murid yang memadati pinggir lapangan memberikan sinyal sosiologis yang kuat. Ada sebuah harmoni gotong royong dan kesadaran kolektif bahwa urusan mendidik anak bangsa bukanlah beban tunggal lembaga sekolah, melainkan tanggung jawab moral seluruh elemen masyarakat.

Saat peluit panjang babak penyisihan mulai ditiup, kita tidak hanya sedang menyaksikan perburuan gol demi gol. Lebih dari itu, di Lapangan Hikmat Takalala, kita sedang melihat bagaimana fondasi generasi masa depan Soppeng dirajut dengan keringat, tawa, dan sportivitas yang tinggi.


Tidak ada komentar