Breaking News

Di Puncak Bollangi, Rindu Itu Bersujud: Jejak Cinta dan Silaturahmi Smabo 83 yang Tak Pernah Usai







Oleh: Alimuddin (Alumni Smabo 83)



Di kaki langit Bollangi yang diselimuti kabut tipis pegunungan, waktu seakan berjalan lebih lambat. Udara dingin yang turun perlahan di pelataran Villa Bollangi, Gowa, Sabtu, 9 Mei 2026, seperti sengaja dihadirkan Tuhan untuk menyambut sekumpulan hati yang telah lama dipisahkan usia, kesibukan, dan jarak kehidupan.

Mereka datang bukan sekadar menghadiri sebuah reuni.

Mereka datang membawa rindu yang dipendam puluhan tahun.

Mereka datang untuk menunaikan silaturahmi.




Dari berbagai penjuru Sulawesi Selatan, bahkan dari tanah rantau yang jauh, satu per satu alumni SMA Negeri 156 Watampone angkatan 1983, yang akrab disebut Smabo 83, melangkahkan kaki menuju Bollangi. Ada yang rambutnya telah memutih, ada yang langkahnya mulai pelan, ada pula yang wajahnya masih menyimpan jejak muda masa putih abu-abu dahulu. Namun di balik perubahan usia itu, mata mereka tetap menyala dengan cahaya yang sama: cahaya persaudaraan.

Empat puluh tiga tahun telah berlalu sejak mereka meninggalkan ruang-ruang kelas di Watampone, sekolah yang kini bernama SMA Negeri 1 Bone. Waktu telah membawa mereka menjadi banyak hal, wajurnalis, guru, pengusaha, birokrat, pensiunan aparat, hingga pelayan masyarakat. Tetapi di Bollangi, seluruh jabatan itu luruh bersama embun pagi.

Yang tersisa hanyalah persahabatan.

Yang tinggal hanyalah kenangan.

Dan yang paling terasa adalah rasa syukur karena Allah masih mempertemukan mereka dalam keadaan sehat, dalam pelukan usia yang mulai senja.





Di bawah rindangnya pepohonan pegunungan, tawa-tawa lama kembali menemukan rumahnya. Dari IPA 1, IPA 2, hingga IPS 1 sampai IPS 5, seluruh sekat yang dahulu mungkin terasa nyata kini melebur menjadi satu warna persaudaraan. Tidak ada lagi perbedaan jurusan. Tidak ada lagi kelompok-kelompok kecil masa sekolah. Yang ada hanyalah keluarga besar Smabo 83 yang kembali duduk melingkar seperti anak-anak muda yang belum pernah disentuh waktu.

“Di Bollangi, rindu tidak lagi sekadar kata,” ujar salah seorang alumni dengan mata berkaca-kaca. “Ia menjelma menjadi pelukan hangat saudara, menyatukan doa dalam satu sujud yang sama.”

Kalimat itu terasa hidup sepanjang reuni berlangsung.

Saat azan Magrib berkumandang dari masjid di sekitar villa, percakapan-percakapan panjang pun terhenti perlahan. Mereka berdiri, mengambil air wudhu, lalu berjalan bersama menuju rumah ibadah. Di sanalah suasana reuni berubah menjadi sangat hening dan syahdu. Bahu yang dahulu bersisian di bangku sekolah, kini kembali sejajar dalam saf salat.




Ada sesuatu yang sulit dijelaskan ketika manusia dipertemukan kembali oleh usia dan doa.

Barangkali itulah yang disebut keberkahan silaturahmi.

Di sela-sela kebersamaan itu, nama-nama sahabat yang telah lebih dahulu berpulang turut disebut dengan penuh haru. Ada Rosidah, almarhumah yang kini telah menyusul Hidayah Tassakka. Ada pula Sysrifah Marliana dan sejumlah sahabat lain dari Smabo 83 yang tak lagi sempat menikmati hangatnya pertemuan di Bollangi.

Beberapa mata tampak basah.

Beberapa suara mulai bergetar.

Sebab dalam usia yang terus menua, setiap kehilangan terasa lebih dekat dengan dada.

Namun justru di sanalah manusia belajar bahwa hidup hanyalah perjalanan singkat untuk saling mengenang dan saling mendoakan.

Malam di Bollangi kemudian berubah menjadi panggung kenangan.

Setelah rapat konsolidasi organisasi alumni dan makan malam bersama, suasana cair dalam balutan hiburan sederhana. Lagu-lagu lama dinyanyikan perlahan. Puisi-puisi dibacakan dengan suara yang tertahan haru. Tangan-tangan saling menggenggam ketika kado-kado kecil dibagikan, bukan karena nilainya, tetapi karena cinta yang menyertainya.

Canda gurau kembali pecah seperti masa remaja dahulu.

Tawa mereka memantul di antara dinginnya pegunungan.

Dan malam terasa terlalu singkat untuk sebuah kerinduan yang telah dipendam lebih dari empat dekade.

Bagi Hidayat Hafiedz dan sahabat-sahabatnya dari IPS 5, reuni ini bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah investasi batin. Sebuah ruang untuk merawat ingatan bahwa hidup tak hanya tentang pekerjaan dan pencapaian, tetapi juga tentang menjaga hubungan hati dengan sesama manusia.

Karena pada akhirnya, manusia tidak diingat oleh hartanya.

Melainkan oleh kasih sayangnya.

Esok siang, ketika langkah-langkah kaki mulai meninggalkan Villa Bollangi, setiap orang tahu bahwa pertemuan ini akan berakhir. Mobil-mobil akan kembali bergerak menuruni pegunungan. Jalan-jalan akan kembali memisahkan mereka menuju kehidupan masing-masing.

Namun ada sesuatu yang tidak ikut pulang.

Ada kehangatan yang tertinggal di Bollangi.

Dan ada pula api silaturahmi yang justru semakin menyala dalam dada mereka.

Mereka pulang bukan hanya membawa foto-foto di telepon genggam, melainkan membawa ketenangan jiwa yang hanya lahir dari pelukan sahabat lama dan doa-doa yang dipanjatkan bersama.





Di usia yang tidak lagi muda, mereka akhirnya memahami satu hal sederhana:

Bahwa persahabatan sejati tidak pernah dimakan zaman.

Ia hanya menunggu waktu untuk dipertemukan kembali.





Sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim:

"Barangsiapa yang ingin diluangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi."

Dan di Bollangi, malam itu, silaturahmi benar-benar menemukan sujudnya.

Tidak ada komentar