Belajar dari Nyala Api: Outing Class “Damkar Sahabat Anak” Tanamkan Keberanian dan Kepedulian Sejak Dini di Soppeng
Keterangan Gambar:
Anak-anak TK Aisyiah dan TK Melati Desa Congko mengikuti simulasi pemadaman api dalam kegiatan Outing Class “Damkar Sahabat Anak” di depan Kantor Pemadam Kebakaran Kelurahan Tettikenrarae, Kecamatan Marioriwawo, Rabu (22/4/2026). Kegiatan ini bertujuan menanamkan pemahaman dini tentang bahaya kebakaran serta keberanian dalam menghadapi situasi darurat.
Penulis: Erlis 27
Editor: Alimuddin
Pagi itu, langit di Desa Congko tampak teduh, seolah memberi ruang bagi tawa anak-anak yang berkumpul di depan Kantor Pemadam Kebakaran Kelurahan Tettikenrarae, Kecamatan Marioriwawo. Di antara riuh suara kecil yang penuh rasa ingin tahu, nyala api menyembul pelan, bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai guru yang memperkenalkan makna kewaspadaan dan keberanian.
Rabu, 22 April 2026, menjadi hari belajar yang berbeda bagi siswa TK Aisyiah dan TK Melati. Mereka tidak duduk di bangku kelas, melainkan berdiri dekat sumber pengetahuan yang nyata, api yang harus dipahami, bukan ditakuti. Dalam kegiatan Outing Class bertema “Damkar Sahabat Anak”, pelajaran tentang keselamatan dan kepedulian disampaikan dengan cara yang sederhana, namun membekas.
Dengan mata berbinar, anak-anak menyaksikan langsung simulasi pemadaman kebakaran. Mereka belajar bahwa api bisa menjadi sahabat jika dipahami, namun juga bisa menjadi musuh jika diabaikan. Para petugas pemadam kebakaran dengan sabar menunjukkan langkah-langkah penanganan awal, sementara para guru mendampingi, memastikan setiap anak menyerap pengalaman ini dengan rasa aman dan gembira.
Outing Class, bagi mereka, bukan sekadar kegiatan luar ruangan. Ia adalah jembatan antara teori dan kehidupan nyata, tempat di mana pengetahuan tidak hanya dihafal, tetapi dirasakan. Dalam momen-momen seperti ini, pendidikan menemukan ruhnya: membentuk karakter, menumbuhkan keberanian, dan menanamkan nilai tanggung jawab sejak usia dini.
Ufianto, S.Ip, selaku penelaah teknis kebijakan, bersama tim analis kebakaran seperti Ardi dan Wawan, S.Ip, menjelaskan bahwa kegiatan semacam ini merupakan bentuk pelayanan edukatif yang disesuaikan dengan kebutuhan sekolah.
“Kami hadir sesuai permintaan dan kesiapan di lapangan. Hari ini ada tiga personel dari kabupaten, ditambah petugas piket,” ujarnya.
Sementara itu, Rominah, guru TK Aisyiah, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas pendampingan yang diberikan. Baginya, pengalaman ini bukan hanya memperkaya wawasan anak-anak, tetapi juga menanamkan nilai keberanian dan kepedulian terhadap sesama.
Di balik kobaran api yang dikendalikan, terselip pelajaran tentang kehidupan: bahwa setiap bahaya dapat dihadapi dengan ilmu, setiap ketakutan bisa ditaklukkan dengan pemahaman, dan setiap anak memiliki potensi untuk tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan peduli.

Tidak ada komentar