Breaking News

Nafas Air di Pattojo: Saat Seragam dan Keringat Menyatu dalam Doa Alam


Keterangan Gambar:

KEMANUNGGALAN DI TEPI SUNGAI: Sejumlah personel Koramil 04/Liliriaja bersama warga Desa Pattojo bahu-membahu menata batu dan membersihkan aliran sungai Lappamaloang, Soppeng, Selasa (31/03/2026). Aksi nyata ini merupakan upaya preventif mencegah banjir sekaligus merawat kelestarian alam sebagai wujud syukur atas karunia Tuhan. (Foto: Dokumentasi Kodim 1324 Soppeng)


Oleh: SM Katalawala


SOPPENG – Pagi itu, Selasa (31/03/2026), matahari baru saja memanjat pucuk-pucuk pohon di Desa Pattojo. Cahayanya jatuh di permukaan air sungai Lappamaloang, memantulkan kilau yang tenang namun menyimpan kekhawatiran. Di tepian aliran itu, kehidupan tak sekadar bergerak; ia berdenyut dalam harmoni gotong royong yang khusyuk.

Suara gemericik air beradu dengan denting batu yang digeser. Bukan sekadar kerja bakti biasa, pembersihan sungai dan bendungan ini adalah sebuah ikhtiar lahiriah untuk menjaga amanah Tuhan berupa alam yang asri. Di sana, batas antara pengabdi negara dan rakyat sipil melebur. Personel Koramil 04/Liliriaja dengan seragam lorengnya tak ragu berkubang lumpur, bahu-membahu bersama Kepala Desa dan puluhan warga yang datang membawa semangat serupa: menjaga rumah mereka dari amukan banjir.

“Air adalah sumber kehidupan, namun ia bisa menjadi teguran jika kita lalai merawat salurannya,” bisik salah seorang warga di sela peluhnya.

Tangan-tangan perkasa itu dengan telaten memungut sampah alami, menggeser bongkahan batu yang menghalangi jalan air, dan mengeruk lumpur yang mulai mendangkalkan dasar sungai. Setiap ayunan cangkul dan setiap batu yang ditata rapi adalah bentuk ibadah nyata, sebuah doa tanpa kata agar saat hujan deras menyapa nanti, bumi Pattojo tetap mampu memeluk air dengan ramah tanpa harus meluap duka.

Sekitar 30 pasang tangan bergerak seirama, membuktikan bahwa seberat apa pun beban alam, ia akan terasa ringan dalam bingkai silaturahmi. Ada tawa kecil di tengah lelah, ada tegur sapa yang menghangatkan suasana di bawah terik yang mulai menyengat.

Tepat pukul 11.00 WITA, saat matahari tegak lurus di atas kepala, sungai Lappamaloang tampak lebih lega. Alirannya kini lebih jernih, seolah mengucap terima kasih atas perhatian manusia-manusia yang mencintainya. Kerja bakti pun usai, meninggalkan jejak ketulusan yang mengalir sekencang arus sungai yang kini kembali lancar. Di Pattojo, mereka tidak hanya membersihkan sungai; mereka sedang merawat masa depan dengan cinta dan sujud syukur kepada Sang Pemilik Semesta.

Tidak ada komentar