Sunyi yang Dijaga: Pitumpanua di Bawah Pengawasan Tanpa Sorot Kamera
Keterangan Foto:
Personel Polsek Pitumpanua melakukan pengamanan di atas kapal ferry di Pelabuhan Bangsalae. Pengawasan dilakukan untuk memastikan arus penyeberangan berjalan aman serta mencegah potensi gangguan kamtibmas di wilayah perbatasan.
Laporan: Sabri
Di Pelabuhan, di Perbatasan, dan di Balik Senyap Aparat yang Tak Boleh Lengah
Pagi belum sepenuhnya matang ketika roda-roda kendaraan menggerus pelat baja kapal di Pelabuhan Bangsalae. Bau laut bercampur solar menguar. Di sela denting rantai dan suara mesin ferry, aparat berseragam cokelat berdiri berjaga—tanpa teriak, tanpa aba-aba keras.
Di situlah wajah keamanan Pitumpanua hari ini terlihat: sunyi, namun tegang. Tenang, tapi tak pernah benar-benar lengah.
Dalam kurun 1x24 jam terakhir hingga Sabtu, 24 Januari 2026, wilayah hukum Polsek Pitumpanua tercatat nihil kejadian menonjol. Tak ada laporan kriminal besar. Tak ada keributan. Namun, justru di situ kerja aparat diuji: menjaga stabilitas tanpa gaduh, mengamankan tanpa harus mencolok.
Sunyi yang Dijaga, Bukan Kebetulan
Kapolsek Pitumpanua, AKP Andi Suhidin, menyebut situasi kondusif itu bukan hasil kebetulan. Ia lahir dari pengawasan yang terus bergerak.
“Tidak ada kejadian menonjol, bukan berarti kami lengah. Justru di saat seperti inilah pengawasan harus diperketat,” ujar Andi Suhidin, Sabtu pagi.
Ia menyebut, seluruh personel tetap berada dalam pola siaga. Tiga tahanan yang berada di Mapolsek dalam kondisi sehat. Tidak ada titipan dari instansi lain. Tak ada pula laporan kriminal yang mengusik ketenangan warga.
Namun di balik laporan yang tampak sederhana itu, aparat bekerja dalam ritme yang tak terlihat publik.
Pelabuhan, Perbatasan, dan Titik Rawan
Pelabuhan Bangsalae menjadi salah satu titik paling sensitif. Di sinilah lalu lintas manusia dan kendaraan keluar-masuk Wajo berlangsung setiap hari.
Personel Polsek Pitumpanua melakukan pengamanan terbuka di atas KMP Merak, KMP Camelia, hingga kapal fiber rute Siwa–Tobaku. Pemeriksaan dilakukan tanpa banyak bicara, tapi menyeluruh.
Di sisi lain, perhatian juga tertuju ke perbatasan Wajo–Luwu. Kapolsek turun langsung memimpin pengamanan menyusul adanya pergerakan massa dari wilayah Luwu.
“Kami tidak menunggu situasi memburuk. Pencegahan jauh lebih penting daripada penindakan,” ujar Andi Suhidin, singkat namun tegas.
Patroli juga diperketat di kawasan PT Perkebunan Nusantara IV Regional II Unit Keera–Maroanging, objek vital yang tak boleh luput dari pengawasan.
Di Antara Ibadah dan Penegakan Hukum
Di sela pengamanan, aparat tak sepenuhnya larut dalam rutinitas lapangan. Kapolsek bersama Wakapolsek Iptu Haryadi turut menghadiri peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW 1448 H di Masjid Al-Ijtihad, Kelurahan Benteng.
Sebuah jeda spiritual di tengah tugas yang menuntut kewaspadaan penuh.
Sementara itu, Unit Reskrim tetap bekerja di balik layar. Sengketa kepemilikan rumah dimediasi. Pemeriksaan saksi kasus pencurian dengan kekerasan berlanjut. Intelkam dan Bhabinkamtibmas menyisir wilayah, menyerap informasi, membaca tanda-tanda kecil yang kerap luput dari mata awam.
Ketertiban yang Tak Selalu Terdengar
Di Pitumpanua, keamanan bukanlah sesuatu yang dipamerkan. Ia hadir dalam bentuk paling sunyi: tidak adanya kejahatan, tidak adanya kegaduhan, tidak adanya korban.
Namun justru di situlah tantangannya.
Sebab menjaga ketertiban di saat keadaan tenang, sering kali lebih sulit daripada menertibkan kekacauan.
Dan hari itu, di bawah langit yang teduh, aparat memilih tetap berjaga, karena keamanan, seperti juga kepercayaan, tidak pernah boleh ditinggalkan walau sesaat.

Tidak ada komentar