Di Ruang Belajar, Polisi Menanam Benih Disiplin dan Kepedulian
Keterangan Gambar:
Kasat Binmas Polres Soppeng IPTU Andri Hermansyah bersama personel kepolisian, tenaga pendidik, dan para siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 64 Soppeng dalam kegiatan penyuluhan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), Selasa (13/10/2026). (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)
PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani
FEATURE PALAPA
Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta
PALAPA INFO, SOPPENG — Pendidikan tidak selalu berlangsung melalui tulisan di papan tulis atau pelajaran yang tersusun di dalam buku. Ada kalanya, pelajaran paling penting justru hadir melalui percakapan sederhana tentang bagaimana menghormati sesama, menjaga kepercayaan, dan memahami batas antara hak diri sendiri dan hak orang lain.
Di ruang belajar Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 64 Soppeng, Lingkungan Laempa, Kelurahan Lalabata Rilau, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng, Selasa, 13 Oktober 2026, pesan-pesan itu disampaikan melalui kegiatan penyuluhan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) yang dilaksanakan Satuan Pembinaan Masyarakat (Sat Binmas) Polres Soppeng.
Kegiatan yang dimulai pukul 10.00 Wita tersebut bukan semata-mata tentang aturan yang harus ditaati. Lebih dari itu, penyuluhan ini menjadi ruang untuk mengingatkan para pelajar bahwa kehidupan bersama membutuhkan sikap saling menghargai, kedisiplinan, dan kesediaan menjaga perasaan maupun hak orang lain.
Sebab, lingkungan yang aman tidak lahir hanya karena adanya peraturan. Ia tumbuh ketika setiap orang memiliki kesadaran untuk tidak menyakiti, tidak mengambil sesuatu yang bukan miliknya, dan tidak menjadikan kelemahan orang lain sebagai alasan untuk merendahkannya.
Ketika Disiplin Menjadi Pelajaran Kehidupan
Penyuluhan dipimpin langsung oleh Kasat Binmas Polres Soppeng, IPTU Andri Hermansyah, S.Sos., M.Si., didampingi KBO, Kaur Mintu, para kanit, serta personel Sat Binmas.
Di hadapan para siswa, petugas menyampaikan sejumlah materi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, khususnya dalam lingkungan sekolah dan asrama.
Para pelajar diingatkan mengenai pentingnya mematuhi tata tertib asrama, mencegah perundungan atau bullying, serta tidak mengambil barang milik orang lain.
Ketiga hal tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, di baliknya terdapat nilai-nilai mendasar yang menentukan kualitas hubungan antarmanusia: disiplin, penghormatan terhadap martabat sesama, dan kejujuran.
Mematuhi tata tertib berarti belajar memahami bahwa kebebasan seseorang tetap memiliki batas ketika hidup bersama orang lain.
Menolak perundungan berarti menyadari bahwa setiap anak memiliki martabat yang patut dihormati, terlepas dari perbedaan keadaan, kemampuan, penampilan, maupun latar belakangnya.
Sementara itu, tidak mengambil barang milik orang lain merupakan bentuk penghormatan terhadap hak sesama sekaligus latihan membangun kejujuran sejak dini.
Nilai-nilai tersebut tidak cukup hanya diketahui. Ia perlu tumbuh menjadi kebiasaan, dipelihara melalui keteladanan, dan diterapkan ketika tidak ada orang yang mengawasi.
Di situlah pendidikan karakter menemukan maknanya yang sesungguhnya.
Mencegah Perundungan, Menjaga Martabat Sesama
Perundungan bukan sekadar persoalan pertengkaran antarpelajar. Jika dibiarkan, perilaku tersebut dapat melukai rasa percaya diri, mengganggu ketenangan belajar, dan membuat seorang anak merasa sendirian di tengah lingkungan yang seharusnya menjadi tempatnya bertumbuh.
Karena itu, upaya pencegahan perundungan perlu dibangun melalui kesadaran bersama.
Anak-anak perlu memahami bahwa perbedaan bukan alasan untuk menyakiti. Candaan tidak semestinya menjadi pembenaran ketika seseorang merasa direndahkan. Keberanian juga bukanlah kemampuan untuk menakut-nakuti orang lain, melainkan kesanggupan menahan diri, menghormati sesama, dan mencari pertolongan ketika menghadapi tindakan yang tidak patut.
Dalam kehidupan asrama, pesan semacam ini menjadi semakin penting. Para siswa menjalani keseharian dalam ruang bersama, berinteraksi dengan beragam karakter, dan belajar menyesuaikan diri dengan kebutuhan orang lain.
Di sana, kedisiplinan bukan hanya urusan mengikuti jadwal atau menaati aturan. Kedisiplinan juga berarti menjaga ucapan, menghargai ruang pribadi, tidak mengganggu ketenangan teman, serta bersedia bertanggung jawab atas tindakan sendiri.
Sebab, sebuah lingkungan pendidikan yang baik bukan hanya tempat anak-anak memperoleh pengetahuan, melainkan juga tempat mereka belajar menjadi manusia yang lebih baik.
Polisi, Sekolah, dan Keluarga dalam Satu Tanggung Jawab
Selain membahas perilaku di lingkungan asrama, personel Sat Binmas Polres Soppeng memberikan penjelasan mengenai situasi kamtibmas di Kabupaten Soppeng serta pentingnya kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Pesan tersebut menempatkan keamanan sebagai tanggung jawab bersama. Ketertiban tidak semata-mata bergantung pada kehadiran aparat, tetapi juga pada kesediaan masyarakat untuk menjaga lingkungan dan mencegah munculnya persoalan sejak dini.
Kapolres Soppeng, AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H., menegaskan bahwa pembinaan kepada pelajar merupakan bagian penting dalam membangun generasi muda yang berintegritas dan memiliki kepedulian terhadap keamanan lingkungan.
Menurutnya, pendidikan kamtibmas tidak berhenti pada pengenalan aturan, tetapi harus menyentuh pembentukan sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menekankan pentingnya menghormati sesama, menjaga hak orang lain, menaati tata tertib, serta berani menolak segala bentuk perundungan sebagai bagian dari upaya mewujudkan lingkungan yang aman dan tertib.
Kapolres juga menyoroti perlunya sinergi antara kepolisian, pihak sekolah, dan keluarga dalam mendampingi anak-anak agar tumbuh menjadi pribadi yang disiplin, berkarakter, dan mampu memberikan pengaruh positif di tengah masyarakat.
Pandangan tersebut menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja.
Sekolah menyediakan ruang pembelajaran dan pembiasaan. Keluarga menanamkan nilai melalui kasih sayang, perhatian, serta keteladanan. Kepolisian memberikan edukasi tentang hukum, ketertiban, dan tanggung jawab sosial.
Ketiganya memiliki peran yang berbeda, tetapi bertemu pada tujuan yang sama: membantu anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, dan menghargai martabat manusia.
Pembinaan yang berkelanjutan juga diperlukan agar pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti sebagai materi penyuluhan. Nilai-nilai tersebut perlu dihidupkan kembali dalam keseharian, melalui pengawasan yang proporsional, komunikasi yang terbuka, dan teladan dari orang-orang dewasa di sekitar mereka.
Menjaga Anak, Menjaga Masa Depan
Kegiatan penyuluhan berakhir pada pukul 11.15 Wita. Berdasarkan keterangan Humas Polres Soppeng, seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib dan kondusif.
Namun, nilai sebuah kegiatan pendidikan tidak semata-mata diukur dari ketertiban selama acara berlangsung. Makna yang lebih besar terletak pada sejauh mana pesan yang disampaikan dapat dipahami, diterapkan, dan menjadi bagian dari kebiasaan para siswa setelah kegiatan berakhir.
Kesadaran tentang keamanan dan ketertiban memang dapat diperkenalkan melalui penyuluhan. Akan tetapi, karakter dibentuk melalui proses yang lebih panjang: melalui contoh yang dilihat setiap hari, nasihat yang disampaikan dengan bijaksana, serta lingkungan yang memberi ruang bagi anak untuk belajar dari kesalahan tanpa kehilangan harga dirinya.
Anak-anak membutuhkan aturan agar memahami batas. Mereka juga membutuhkan perhatian agar mengerti alasan di balik aturan itu. Mereka perlu diajarkan tanggung jawab, tetapi sekaligus diberi kesempatan untuk bertanya, mengakui kesalahan, dan memperbaiki diri.
Sebab, tujuan pendidikan bukan sekadar membuat anak takut melakukan pelanggaran. Tujuan yang lebih luhur ialah menumbuhkan kesadaran agar mereka memilih berbuat baik, bahkan ketika tidak ada yang melihat.
Di ruang-ruang belajar seperti SRT 64 Soppeng, upaya membangun kesadaran itu menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam mempersiapkan generasi penerus.
Polisi dapat menyampaikan pesan. Guru dapat membimbing. Orang tua dapat menanamkan nilai. Namun, benih kebaikan itu akan tumbuh kuat ketika seluruh lingkungan memberi teladan yang sama: bahwa kejujuran harus dijaga, perbedaan mesti dihormati, dan tidak seorang pun berhak merampas martabat orang lain.
Pada akhirnya, keamanan bukan hanya tentang seberapa jauh sebuah lingkungan terbebas dari gangguan. Keamanan juga tentang apakah seorang anak dapat belajar tanpa ketakutan, berteman tanpa direndahkan, dan tumbuh tanpa harus kehilangan kehormatan dirinya.
Sebab, masa depan tidak hanya dibangun oleh anak-anak yang cerdas membaca dunia, tetapi juga oleh mereka yang memiliki hati untuk menjaga sesamanya. Dan mungkin, dari pelajaran sederhana tentang disiplin, kejujuran, serta keberanian menolak perundungan, tumbuh kesadaran yang kelak membuat dunia sedikit lebih manusiawi.
Fakta Diberitakan. Manusia Dimuliakan. Nurani Dihidupkan.

Tidak ada komentar