Maulid Nabi di PWI Sulsel, Merawat Silaturahmi dan Nurani Insan Pers
Keterangan Gambar:
Pengurus dan anggota PWI serta IKWI Sulawesi Selatan mengikuti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di Kantor PWI Sulsel, Makassar, Senin (31/8/2026). Nuansa tradisi lokal tampak melalui sajian telur warna-warni dan kaddo minya’ yang mengiringi suasana kebersamaan. (Foto: Dokumentasi PWI Sulawesi Selatan)
PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani
FEATURE PALAPA
Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta
PALAPA INFO, MAKASSAR — Ada kalanya sebuah ruangan tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi menjelma menjadi ruang untuk mengingat kembali siapa diri kita dan untuk apa kita berjalan.
Di Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan, Jalan Macini Sawah, Makassar, Senin (31/8/2026), suasana itu terasa ketika keluarga besar PWI Sulsel bersama Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) Sulsel memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah.
Di antara lantunan salawat, ayat-ayat suci Al-Qur’an, doa dan tausiyah, para insan pers sejenak meletakkan kesibukan jurnalistik di luar pintu. Mereka duduk dalam satu suasana yang lebih teduh, mengingat Rasulullah SAW, sekaligus mengingat kembali arti persaudaraan.
Tema “Melalui Maulid Kita Tingkatkan Silaturahmi” menjadi benang merah peringatan tersebut.
Sebab, dalam dunia jurnalistik yang setiap hari bersentuhan dengan fakta, kritik, kepentingan dan dinamika kehidupan, manusia di balik profesi tetap membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak.
Ruang untuk saling menyapa.
Ruang untuk saling memaafkan.
Dan ruang untuk kembali menguatkan hati.
Ketika Pers Bertemu Keteladanan
Kegiatan yang dikemas dalam semangat “Berkah Maulid” itu berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan.
Pembacaan ayat suci Al-Qur’an membuka rangkaian kegiatan. Lantunan salawat kemudian mengisi ruang, disusul tausiyah keagamaan yang mengajak hadirin menengok kembali perjalanan hidup Rasulullah Muhammad SAW.
Ustaz Salahuddin Rahman Al-Ayyubi dalam tausiyahnya mengingatkan pentingnya menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam kehidupan.
Bagi insan pers, pesan itu menemukan relevansinya dalam ruang yang sangat dekat dengan keseharian: bagaimana menjaga ukhuwah, memperkokoh persaudaraan, menumbuhkan empati dan tetap menghadirkan akhlak dalam menjalankan profesi.
Sebab jurnalistik bukan semata-mata pekerjaan menulis berita.
Di balik setiap berita terdapat manusia. Ada kegembiraan yang perlu disampaikan dengan jernih, ada kesedihan yang harus disentuh dengan empati, ada kekuasaan yang perlu diawasi, dan ada suara masyarakat yang harus diberi ruang.
Karena itu, ketajaman pena idealnya berjalan bersama kejernihan nurani.
Fakta harus tetap menjadi pijakan. Tetapi cara memperlakukan manusia yang menjadi bagian dari fakta itu juga merupakan cermin dari kematangan seorang wartawan.
Di situlah keteladanan Rasulullah SAW menemukan tempatnya.
Telur Warna-Warni dan Ingatan tentang Kehidupan
Peringatan Maulid di PWI Sulsel juga tidak kehilangan sentuhan budaya.
Hiasan pohon pisang dengan telur warna-warni hadir sebagai bagian dari tradisi yang telah lama hidup dalam masyarakat Sulawesi Selatan.
Di balik warna dan bentuknya, telur tidak hanya menjadi hiasan perayaan. Ia mengandung simbol kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus gambaran tentang benih kehidupan dan harapan terhadap generasi yang akan datang.
Seperti telur yang menyimpan kehidupan di dalam cangkangnya, demikian pula sebuah organisasi menyimpan harapan di dalam kebersamaan orang-orang yang menghidupinya.
Tradisi dan agama pun bertemu dalam satu ruang yang sederhana.
Tidak berlebihan, tetapi penuh makna.
Di meja, sajian Maulid tersusun rapi. Di hadapan para tamu, simbol-simbol tradisi itu seakan mengingatkan bahwa kebudayaan dapat menjadi jalan untuk merawat ingatan, sementara agama memberi arah bagi kehidupan.
Silaturahmi yang Menguatkan Organisasi
Ketua PWI Sulsel, Dr. Ir. H. Suwardi Tahir, S.I.Kom, menempatkan peringatan Maulid bukan sekadar agenda seremonial keagamaan.
Menurutnya, momentum tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat konsolidasi internal organisasi.
“Melalui peringatan Maulid ini, kita berharap dapat semakin solid, saling menopang, dan konsisten menyebarkan nilai-nilai kebaikan melalui karya jurnalistik kita,” tuturnya.
Pesan itu sederhana, tetapi menyimpan tanggung jawab yang besar.
Soliditas organisasi tidak selalu lahir dari rapat dan keputusan. Ia juga tumbuh dari perjumpaan manusia dengan manusia, dari percakapan yang tulus, dari meja makan yang mempertemukan perbedaan, serta dari kesediaan untuk saling memahami.
Dalam suasana Maulid, batas-batas kesibukan profesi seakan menjadi lebih cair.
PWI dan IKWI bertemu bukan hanya sebagai struktur organisasi, tetapi sebagai sebuah keluarga besar yang saling menopang.
Ketua IKWI Sulsel, Hj. St. Farida Suwardi Thahir, turut menyampaikan sambutan hangat dalam kegiatan tersebut.
Peringatan itu juga dihadiri Pengurus PWI Pusat H. Rukman Nawawi serta Ketua Dewan Kehormatan PWI Sulsel Dr. H. M. Dahlan Abubakar, M.Hum.
Kehadiran para tokoh tersebut semakin memberi makna bahwa silaturahmi bukan sekadar mempertemukan orang-orang dalam satu tempat, melainkan mempertemukan hati dalam satu niat baik.
Dari Salawat ke Sepiring Kaddo Minya’
Rangkaian acara kemudian ditutup dengan doa bersama.
Setelah itu, suasana berubah menjadi lebih cair. Percakapan dan canda ringan mengalir dalam ramah tamah. Sajian khas kaddo minya’ menjadi salah satu hidangan yang dinikmati para tamu.
Di situlah Maulid menemukan wajahnya yang paling manusiawi.
Setelah ayat dan salawat dilantunkan, orang-orang duduk bersama. Tidak ada jarak yang perlu dipertahankan terlalu tinggi. Tidak ada kesibukan yang harus dikejar dalam beberapa saat.
Yang tersisa adalah kebersamaan.
Barangkali, demikianlah salah satu cara sederhana untuk menjaga sebuah organisasi tetap hidup: bukan hanya dengan aturan dan struktur, tetapi dengan silaturahmi.
Inisiasi pengurus dan anggota IKWI Sulsel melalui kegiatan “Berkah Maulid” itu akhirnya menghadirkan sebuah ruang yang hangat bagi keluarga besar PWI dan IKWI Sulsel.
Sebuah ruang untuk mengingat bahwa profesi wartawan boleh menuntut keberanian, tetapi keberanian tanpa akhlak dapat kehilangan arah.
Pena boleh tajam mengurai fakta, tetapi hati harus tetap lembut membaca manusia.
Dan berita boleh mengejar waktu, tetapi nurani tidak boleh ditinggalkan.
Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di PWI Sulsel pun menjadi lebih dari sekadar sebuah peringatan.
Ia menjadi jeda.
Menjadi doa.
Menjadi ikhtiar untuk merawat persaudaraan.
Sebab pada akhirnya, sebuah organisasi mungkin dibangun oleh banyak tangan, tetapi ia hanya akan bertahan lama apabila dijaga oleh hati yang bersedia saling menggenggam. (Rilis PWI Sulsel/PMG/Red)

Tidak ada komentar