Breaking News

Menyapu Jalan, Menyapu Kealpaan



Keterangan Gambar:

Personel Polsek Tempe, Polres Wajo, bersama lintas instansi dan masyarakat melaksanakan kerja bakti membersihkan Jalan Udang, Kelurahan Watallipue, Kecamatan Tempe, Kabupaten Wajo, Jumat (3/7/2026), sebagai bentuk dukungan terhadap Gerakan Nasional Indonesia Asri dan upaya menumbuhkan kesadaran kolektif menjaga kebersihan lingkungan. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Wajo)


EDITORIAL PALAPA INFO

Oleh: Sabri


Ada pemandangan yang tampak sederhana di Jalan Udang, Kelurahan Watallipue, Kecamatan Tempe, Jumat pagi, 3 Juli 2026. Sejumlah personel Polsek Tempe, Polres Wajo, unsur lintas instansi, dan masyarakat terlihat menyapu jalan, membersihkan rumput liar, memungut sampah, lalu mengangkutnya ke dalam karung.

Sekilas, itu hanyalah kerja bakti biasa.

Namun jika dicermati lebih dalam, peristiwa itu sesungguhnya sedang menyampaikan pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar membersihkan ruas jalan.

Ia sedang berbicara tentang kesadaran.

Ia sedang mengingatkan tentang tanggung jawab.

Dan lebih dari itu, ia sedang mengetuk nurani kita semua.

Dalam kehidupan modern, manusia sering terjebak pada paradoks. Kita mendambakan lingkungan yang bersih, nyaman, dan sehat, tetapi pada saat yang sama kerap abai terhadap tindakan-tindakan kecil yang justru menjadi fondasi kebersihan itu sendiri.

Kita ingin perubahan besar.

Tetapi enggan memulai dari hal kecil.

Padahal sejarah selalu mengajarkan satu hal: perubahan besar hampir selalu dimulai dari langkah yang sederhana.

Dari satu tindakan kecil.

Dari satu kepedulian yang tumbuh.

Dari satu hati yang tergerak.

Kerja bakti yang dilaksanakan sebagai bagian dari dukungan terhadap Gerakan Nasional Indonesia Asri patut diapresiasi bukan semata karena hasil fisiknya, tetapi karena nilai moral yang dibawanya.

Saat polisi, aparat pemerintah, dan masyarakat berdiri dalam barisan yang sama, menyapu debu di jalan yang sama, maka sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya kebersihan lingkungan.

Yang sedang dibangun adalah solidaritas sosial.

Sekat-sekat jabatan runtuh.

Batas institusi menjadi kabur.

Yang tersisa hanyalah manusia dengan kesadaran kolektif bahwa bumi ini adalah rumah bersama.

Dan rumah bersama tidak mungkin terjaga jika setiap orang merasa kebersihan adalah urusan orang lain.

Di sinilah pentingnya gotong royong.

Bagi bangsa Indonesia, gotong royong bukan sekadar warisan budaya yang layak dikenang dalam pidato-pidato seremonial. Ia adalah napas kehidupan sosial. Ia adalah energi yang memungkinkan masyarakat bertahan dalam tantangan.

Ketika gotong royong melemah, individualisme tumbuh.

Ketika individualisme menguat, kepedulian perlahan memudar.

Dan ketika kepedulian hilang, kerusakan lingkungan tinggal menunggu waktu.

Editorial ini memandang bahwa kerja bakti di Jalan Udang bukanlah akhir, melainkan pengingat.

Pengingat bahwa kebersihan tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada negara.

Tidak bisa pula hanya dibebankan kepada petugas kebersihan.

Ia adalah kewajiban kolektif.

Dalam perspektif religius, tanggung jawab ini bahkan memiliki dimensi spiritual. Agama mengajarkan manusia sebagai khalifah di muka bumi, penjaga keseimbangan, pemelihara kehidupan.

Maka merawat lingkungan sejatinya bukan sekadar tindakan sosial.

Ia adalah bagian dari ibadah.

Ungkapan An-nadhafatu minal iman, kebersihan adalah bagian dari iman, bukan sekadar slogan moral yang indah diucapkan. Ia adalah kompas etis yang menuntun manusia agar tidak menjadi perusak atas bumi yang dititipkan Tuhan.

Menyapu jalan, karena itu, tidak pernah sesederhana kelihatannya.

Ia bisa menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakpedulian.

Ia bisa menjadi bentuk pendidikan sosial yang paling nyata.

Ia bahkan bisa menjadi cermin kualitas peradaban.

Sebuah kota yang bersih bukan hanya ditentukan oleh anggaran besar, regulasi ketat, atau program pemerintah yang megah.

Ia lahir dari warga yang sadar.

Dari kebiasaan kecil yang diulang setiap hari.

Dari hati yang merasa terganggu saat melihat sampah berserakan.

Dan dari tangan yang memilih bertindak, bukan sekadar mengeluh.

Palapa Info memandang, apa yang terjadi di Jalan Udang patut menjadi teladan.

Bukan karena jalan itu kini lebih bersih.

Tetapi karena ada pesan yang lebih penting daripada kebersihan fisik.

Bahwa pada akhirnya, yang paling perlu dibersihkan dari kehidupan kita mungkin bukan hanya jalan-jalan kota.

Melainkan juga debu-debu dalam kesadaran.

Debu apatis.

Debu egoisme.

Debu kebiasaan menunggu orang lain bergerak lebih dulu.

Sebab negeri ini tidak akan menjadi lebih baik hanya oleh kata-kata besar.

Kadang, perubahan justru dimulai dari suara paling sederhana,

gesekan sapu di atas jalan.

Dan dari sana, semoga lahir masyarakat yang bukan hanya cinta pada kotanya, tetapi juga peduli pada sesamanya.

Tidak ada komentar