Breaking News

Menyemai Akhlak, Menjaga Kedamaian: Catatan dari Penamatan Santri Pesantren Yasrib Soppeng



KETERANGAN GAMBAR:

SINERGI UMARA DAN ULAMA: Kapolsek Lalabata AKP Asep Sibli (kedua dari kiri) saat berbincang hangat dan memberikan ucapan selamat pada acara Penamatan Santri Pondok Pesantren Yasrib Watansoppeng di Kelurahan Lapajung, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng, Minggu (17/5/2026). Kegiatan penamatan 395 santri berorientasi wawasan kebangsaan ini berjalan dengan aman, tertib, dan kondusif berkat pengamanan sinergis antara Polsek Lalabata, TNI, Dishub, dan Banser. (Foto: Dok. Humas Polres Soppeng)


Oleh: Idris


Pagi itu, riuh rendah suara bahagia berpadu khidmat di Kompleks Pondok Pesantren Yasrib Watansoppeng. Di bawah naungan tenda yang megah namun bersahaja, sorot mata ratusan santri memancarkan binar legalitas perjuangan panjang mereka dalam menuntut ilmu. Di atas panggung, sebuah layar digital menampilkan identitas salah satu santriwati: Amilah Ramadhani Asriadi, lahir di Soppeng pada September 2010, putri dari pasangan Asriadi dan Irmayani. Ia adalah satu dari 395 potret masa depan bangsa yang hari itu dikembalikan ke pangkuan masyarakat untuk memulai babak pengabdian baru.

Penamatan santri bukan sekadar seremonial tahunan atau ritual pembagian ijazah di atas kertas. Di balik tema besar yang diusung “Pesantren Untuk Indonesia: Mencetak Generasi Berilmu, Berakhlak, dan Berjiwa Kebangsaan”, terdapat sebuah manifesto peradaban yang mendalam. Di tengah gempuran modernitas dan disrupsi digital yang kian deras, lembaga pendidikan Islam seperti Yasrib membuktikan diri tetap menjadi benteng pertahanan moral yang kokoh bagi Bumi Latemmamala.

Sinergi di Garis Belakang

Ada pemandangan menarik yang jamak dijumpai dalam perhelatan besar keagamaan di daerah: kebersamaan yang cair antara umara (pemerintah/aparat) dan ulama. Di barisan depan, duduk bersisian Kapolsek Lalabata AKP Asep Sibli yang hadir mewakili Kapolres Soppeng AKBP Aditya Pradana, bersama jajaran Forkopimda, tokoh-tokoh sepuh, dan sesepuh pesantren. Kehadiran aparat kepolisian di sini melebur, bukan lagi sebagai simbol kekuasaan yang kaku, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat yang ikut bersukacita sekaligus berjaga di garis belakang. Kapolres Soppeng AKBP Aditya Pradana secara terpisah menegaskan bahwa kehadiran Polri dalam momentum seperti ini adalah wujud nyata dari komitmen pelayanan. 

“Polri hadir untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan masyarakat dapat berjalan dengan aman, tertib, dan lancar,” ujarnya. 

Namun lebih dari itu, kepolisian menangkap esensi yang lebih dalam: mengapresiasi Pondok Pesantren Yasrib atas kontribusi tanpa hentinya dalam melahirkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan memiliki nasionalisme yang kuat.

Pengamanan yang dilakukan oleh personel Polsek Lalabata bersama TNI, Dinas Perhubungan, dan Banser Kabupaten Soppeng hari itu adalah manifestasi dari sinergitas kamtibmas. Ketika aparat memastikan kenyamanan fisik di luar gerbang, para asatidz (guru) sedang memastikan kenyamanan spiritual di dalam jiwa para santri.

Estafet Keilmuan dan Keindonesiaan

Rangkaian acara yang berlangsung dari pukul 09.10 hingga tengah hari itu menyajikan potret utuh prosesi edukasi pesantren. Uji publik berupa tes hafalan Al-Qur’an dan pembacaan kitab kuning menjadi bukti sahih bahwa kualitas akademik pesantren tidak main-main. Puncaknya, untaian nasihat atau Mauidzah Hasanah yang disampaikan oleh Dai Nasional, Ustadz Dr. KH. Muh. Faiz Syukron Ma’mun, Lc., MA., menjadi bekal batin yang membakar semangat para santri untuk melangkah ke jenjang berikutnya.

Sebanyak 395 santri yang lulus hari itu terbagi dalam beberapa tingkatan strata: mulai dari 27 santri Raudhatul Athfal (RA), 182 santri Madrasah Tsanawiyah (MTs), 82 santri Madrasah Aliyah (MA), hingga 104 santri Madrasah Diniyah Halaqiyah. Angka-angka ini bukan sekadar statistik kelulusan, melainkan jumlah tunas-tunas baru yang siap bertebaran menyebarkan kedamaian, moderasi beragama, dan nilai-nilai luhur keindonesiaan.

Saat azan zuhur mulai mendekat, acara pun berakhir dengan tertib. Para orang tua pulang membawa rasa bangga yang buncah, para santri melangkah membawa tanggung jawab baru, dan aparat keamanan mengemasi tugas mereka dengan senyum kepuasan.

Dari Lapajung, Soppeng, sebuah pesan damai kembali dikirimkan ke seluruh penjuru negeri: bahwa masa depan Indonesia akan selalu aman selama ilmu, akhlak, dan semangat kebangsaan terus dirawat bersama-sama secara sinergis.

Tidak ada komentar