Menjemput Asa di Tonrongnge: Kala Keluhan Warga Mengetuk Pintu Dewan
Ilustrasi
Reporter: Sanusi Muda
Editor: Alimuddin
Jumat sore di Lingkungan Mallekana, Kelurahan Tettikenrarae, suasana tampak lebih hidup dari biasanya. Sekitar 150 warga berkumpul, duduk melingkar dalam sebuah dialog yang lebih dari sekadar seremoni politik. Di sana, Ardi Doma, legislator dari Fraksi PDIP DPRD Soppeng, hadir untuk mendengarkan, bukan sekadar berbicara, dalam agenda Reses Masa Sidang II Tahun 2025/2026.
Namun, pertemuan selama 90 menit itu bukanlah basa-basi. Tiga aspirasi utama mencuat ke permukaan, menuntut solusi nyata atas persoalan mendasar yang mencekik keseharian warga Tonrongnge.
Dahaga di Tengah Pemukiman
Persoalan pertama yang mengemuka adalah jeritan tentang air. Sudah sebulan lamanya, keran-keran di rumah warga kering kerontang. Macetnya aliran PDAM telah berubah menjadi beban domestik yang melelahkan. Bagi warga, air bukan sekadar angka di meteran, melainkan urat nadi kehidupan yang kini seolah terputus.
Masa Depan di Balik Biaya
Tak hanya soal infrastruktur fisik, urusan mencerdaskan kehidupan bangsa pun menjadi sorotan. Warga menitipkan harapan agar pemerintah daerah lebih jeli melihat nasib para siswa berprestasi dan mereka yang kurang mampu. Dana pendidikan menjadi poin krusial yang disuarakan; sebuah investasi bagi generasi muda agar bangku sekolah tak menjadi kemewahan yang sulit digapai.
Akses yang Terluka
Melengkapi daftar keluhan tersebut, kondisi infrastruktur jalan ruas Tonrongnge – Attaliang turut menjadi "luka" yang menganga. Kerusakan jalan yang cukup parah bukan hanya menghambat mobilitas, tapi juga mempertaruhkan keselamatan dan laju ekonomi warga setempat.
Menanggapi "tusukan" aspirasi tersebut, Ardi Doma tampak tak ingin memberi janji muluk di atas awan. Ia menegaskan posisinya sebagai penyambung lidah rakyat. Keluhan-keluhan ini akan dibawanya ke meja Pemerintah Daerah untuk segera ditindaklanjuti oleh pihak-pihak terkait.
Reses kali ini, yang juga dihadiri oleh Lurah Tettikenrarae beserta tokoh masyarakat, menjadi pengingat bahwa di balik laporan administratif pembangunan, masih ada suara-suara dari sudut pemukiman yang butuh didengar dan diwujudkan dalam kerja nyata. Di Tonrongnge, harapan itu kini telah diletakkan di pundak wakilnya.

Tidak ada komentar