Menjemput Berkah di Selokan Watu Toa: Kala Seragam Hijau dan Kaos Lusuh Menyatu dalam Doa Kerja
Keterangan Gambar:
SINERGI TANPA SEKAT: Personel Koramil 1423-05/Marioriwawo bersama warga Desa Watu Toa bahu-membahu membersihkan selokan di Dusun Tokebbeng, Soppeng, Rabu (1/4/2026). Aksi gotong royong ini merupakan wujud nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat dalam menjaga kebersihan lingkungan sebagai bagian dari kearifan lokal dan nilai-nilai religius. (Foto: Dokumentasi Koramil 1423-05/Marioriwawo)
Penulis: Alimuddin
Pemred Palapa Media Group
SOPPENG – Matahari pagi di Desa Watu Toa, Rabu (1/4), belum lagi meninggi, namun gema gotong royong sudah riuh rendah di Dusun Tokebbeng. Di atas aspal yang masih menyimpan embun, langkah-langkah tegap personel Koramil 1423-05/Marioriwawo berpadu dengan langkah sederhana warga desa. Tidak ada sekat, tidak ada jarak; yang ada hanyalah pundak-pundak yang saling memikul beban demi satu tujuan mulia: menjaga alam sebagai titipan Sang Pencipta.
Membersihkan selokan mungkin terdengar sebagai pekerjaan remeh bagi sebagian orang. Namun, bagi masyarakat Watu Toa, setiap ayunan cangkul dan tumpukan lumpur yang diangkat adalah bentuk syukur. Mereka percaya bahwa kebersihan adalah bagian dari iman, dan menjaga aliran air agar tetap lancar adalah cara manusia memuliakan air sebagai sumber kehidupan.
Ibadah dalam Bentuk Peluh
Sejak pukul 08.00 WITA, wilayah Woddi berubah menjadi panggung kebersamaan. Para prajurit TNI, yang biasanya lekat dengan kesan kaku, nampak cair bercengkrama dengan warga. Sambil menyeka keringat, mereka bahu-membahu mengeruk sedimen dan sampah yang menyumbat nadi-nadi desa sepanjang 100 meter.
Ada sebuah harmoni yang tercipta. Di sana, keringat yang menetes bukan sekadar peluh akibat kerja fisik, melainkan simbol dedikasi.
Seolah-olah setiap sampah yang disingkirkan adalah upaya membuang penghalang rezeki dan kesehatan bagi penduduk desa.
"Kegiatan ini adalah pengingat bahwa kita tidak hidup sendirian. Menjaga bumi adalah tugas kolektif kita sebagai hamba-Nya," ungkap salah satu warga di sela kegiatannya.
Merajut Silaturahmi, Membasuh Hati
Lebih dari sekadar memindahkan lumpur ke tempat pembuangan, karya bakti ini menjadi momentum "pencucian hati". Di sela-sela kerja, terselip tawa dan obrolan hangat antara aparat desa, RT/RW, dan tentara. Inilah kemanunggalan yang sesungguhnya, saat TNI hadir bukan sebagai pengawas, melainkan sebagai saudara yang tulus mengulurkan tangan.
Sasaran kegiatan ini memang fisik, yakni selokan yang bersih guna mencegah banjir dan penyakit. Namun, sasaran batinnya jauh lebih dalam: menghidupkan kembali roh gotong royong yang perlahan mulai terkikis zaman.
Sebuah Warisan untuk Hari Esok
Tepat pukul 10.00 WITA, ketika panas mulai menyengat, pekerjaan pun tuntas. Selokan kini nampak bersih, siap menyambut hujan tanpa rasa cemas akan sumbatan. Namun, yang lebih penting adalah jejak persaudaraan yang tertinggal di sana.
Kegiatan ini menjadi pesan sunyi namun kuat bagi generasi muda di Desa Watu Toa. Bahwa kebersihan bukan sekadar urusan estetika, melainkan tanggung jawab moral dan spiritual. Dengan harapan, semangat yang menyala di Rabu pagi ini tidak padam begitu saja, namun terus mengalir layaknya air selokan yang kini kembali lancar, membawa keberkahan bagi setiap rumah yang dilaluinya.


Tidak ada komentar