Breaking News

Menjaga Teduh di Hari yang Berbeda



Keterangan Gambar:

Personel TNI dan Polri berjaga di salah satu ruas jalan di Kabupaten Soppeng saat pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1447 H oleh jamaah Muhammadiyah, Jumat (20/3/2026). Pengamanan dilakukan untuk memastikan ibadah berlangsung aman, tertib, dan kondusif di tengah perbedaan waktu perayaan. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)



Oleh: Alimuddin


Perbedaan itu datang lagi, seperti tahun-tahun sebelumnya. Sebagian umat lebih dahulu merayakan Idul Fitri, sementara yang lain masih menunggu. Namun di Kabupaten Soppeng, Jumat, 20 Maret 2026, perbedaan tidak menjelma menjadi jarak. Ia justru menjadi ruang untuk saling menjaga.

Di beberapa sudut kota dan desa, langkah-langkah aparat sudah lebih dulu hadir sebelum takbir dikumandangkan. Mereka berdiri di pinggir jalan, di depan masjid, di simpang-simpang kecil yang menghubungkan kampung dengan kampung. Tidak mencolok, tetapi cukup untuk memastikan satu hal: ketenangan.

Jajaran Polres Soppeng menggelar pengamanan pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1447 Hijriah yang dilaksanakan oleh jamaah Muhammadiyah. Pengamanan tersebar di Kecamatan Lalabata, Donri-Donri, hingga Liliriaja, mengikuti titik-titik di mana umat menunaikan ibadahnya.

Di Masjid Mujahidin Sewo, Masjid Uswatun Hasana, hingga musholla kecil di Kelurahan Jennae, jamaah datang dalam jumlah yang beragam. Ada yang puluhan, ada pula yang ratusan. Mereka membawa harapan yang sama: menutup Ramadan dengan khusyuk.

Di luar pagar, aparat berjaga.

Peran itu tampak sederhana, namun sesungguhnya memikul makna yang lebih luas. Mereka memastikan arus kendaraan tetap tertib, memantau situasi, sekaligus menjadi penanda bahwa negara hadir di tengah masyarakat, bahkan dalam momen yang paling personal sekalipun.

Kapolres Soppeng, AKBP Aditya Pradana, menyampaikan bahwa pengamanan dilakukan untuk mengantisipasi potensi gangguan kamtibmas, sehingga masyarakat dapat beribadah dengan tenang. Pernyataan yang lugas, sebagaimana tugas yang diemban.

Namun di balik itu, terdapat dimensi lain yang tak selalu tercatat dalam laporan resmi. Sebagian petugas tampak sangat patuh melaksanakan perintah komandannya. Lebih dari itu, mereka juga patuh terhadap panggilan nuraninya, bahwa menjaga ketenangan orang lain adalah bagian dari tanggung jawab moral.

Perbedaan penentuan hari raya, yang didasarkan pada metode hisab hakiki wujudul hilal oleh Muhammadiyah, kembali menjadi penanda keberagaman cara pandang dalam beribadah. Tetapi di Soppeng, perbedaan itu tidak berkembang menjadi persoalan.

Tidak ada laporan konflik. Tidak ada ketegangan yang mencuat ke permukaan. Yang tampak justru kedewasaan masyarakat dalam menyikapi perbedaan, sebuah sikap yang tumbuh dari kesadaran bahwa harmoni lebih penting daripada keseragaman.

Aparat keamanan, dalam hal ini, tidak hanya berfungsi sebagai penjaga ketertiban. Mereka juga menjadi bagian dari ekosistem sosial yang memastikan bahwa ruang publik tetap teduh dan inklusif.

Di pagi yang masih muda itu, takbir menggema dari dalam masjid, sementara di luar, langkah-langkah kecil terus bergerak, mengatur, mengawasi, dan menjaga.

Barangkali di situlah makna kebersamaan menemukan bentuknya yang paling sederhana: ketika setiap orang menjalankan perannya, tanpa harus saling meniadakan.

Idul Fitri, meski datang pada waktu yang berbeda, tetap berujung pada hal yang sama, kembali kepada ketenangan, kepada kebersihan hati, dan kepada kesadaran bahwa perbedaan adalah bagian dari kehidupan yang patut dirawat, bukan dipertentangkan.

Tidak ada komentar