Breaking News

Kapolsek Takalala Di Antara Riuh Pasar dan Doa Menjelang Lebaran


Keterangan Gambar:

Kapolsek Takkalalla AKP Mursalim memimpin langsung pengamanan dan patroli dialogis di Pasar Inpres Peneki, Kecamatan Takkalalla, Kabupaten Wajo, Rabu (18/3/2026), guna memastikan situasi tetap aman dan kondusif menjelang Hari Raya Idul Fitri. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Wajo)


Oleh: Sabri


Pagi itu, matahari belum sepenuhnya meninggi ketika riuh Pasar Inpres Peneki mulai menebalkan udara. Tawar-menawar bersahut, langkah kaki berdesakan, dan aroma kebutuhan dapur bercampur menjadi satu, sebuah tanda bahwa Hari Raya Idul Fitri tinggal menghitung hari.

Di tengah hiruk-pikuk itu, hadir sosok-sosok berseragam cokelat. Bukan sekadar berdiri, tetapi menyatu dalam denyut pasar, mengamati, menyapa, sekaligus menjaga. Tiga hari menjelang lebaran, jajaran Polsek Takkalalla mempertebal pengamanan di pasar yang menjadi nadi ekonomi warga Kelurahan Peneki, Kecamatan Takkalalla, Kabupaten Wajo, Rabu (18/3/2026).

Dipimpin langsung Kapolsek Takkalalla, AKP Mursalim, pengamanan berlangsung sejak pagi hingga menjelang siang. Namun, yang tampak bukan sekadar operasi rutin. Ada sentuhan kemanusiaan yang terasa, sapaan hangat kepada pedagang, percakapan ringan dengan pengunjung, hingga imbauan yang disampaikan dengan bahasa yang bersahabat.

Di bulan suci Ramadan, ketika manusia berlomba menata hati, kehadiran aparat keamanan menjadi bagian dari ikhtiar menjaga ketenangan bersama. Polisi tidak hanya menjaga barang dan uang, tetapi juga rasa, rasa aman, rasa tenteram, dan rasa percaya bahwa ruang publik tetap menjadi milik semua.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, terutama terhadap potensi kejahatan seperti pencopetan dan penjambretan,” ujar Mursalim, suaranya tegas namun bersahaja di sela patroli.

Pasar, bagaimanapun, adalah ruang yang rapuh. Keramaian yang membawa berkah, sekaligus membuka celah bagi niat buruk. Apalagi menjelang lebaran, ketika kebutuhan meningkat dan dompet terbuka lebih lebar dari biasanya.

Namun pengamanan hari itu tidak berhenti pada patroli. Para personel juga menelisik harga-harga kebutuhan pokok, mengamati apakah angka-angka masih bersahabat dengan daya beli warga. Sebab, ketenangan tidak hanya soal keamanan, tetapi juga tentang keadilan harga di meja makan.

“Kami ingin memastikan harga tetap stabil agar masyarakat bisa berbelanja dengan tenang,” tambahnya.

Di sela-sela aktivitas itu, terlihat Aiptu Asriadi, Aipda A. Asrul, Aipda Mambi, Bripda Rifki, dan Bripda Raihan, bergerak menyusuri lorong-lorong pasar. Mereka bukan sekadar aparat, melainkan penjaga ruang sosial, mengikat rasa aman di antara transaksi yang berlangsung cepat.

Menjelang siang, pasar masih ramai, tetapi tak ada kegelisahan yang mengendap. Aktivitas berjalan lancar, wajah-wajah tetap teduh, dan suasana terjaga kondusif.

Di tengah riuh itu, mungkin tak banyak yang menyadari: rasa aman adalah nikmat yang sering tak terlihat. Ia hadir diam-diam, seperti doa yang dikabulkan tanpa suara.

Dan pagi itu, di Pasar Inpres Peneki, doa-doa itu dijaga, oleh mereka yang berdiri tanpa banyak kata.


Tidak ada komentar