Breaking News

Menjemput Berkah di Ujung Dermaga: Saat Seragam dan Sarung Bertemu dalam Doa


Keterangan Gambar:

SESTOTARASA DI ATAS DEK: Kapolsek Kawasan Paotere, Iptu Ibnu, memberikan paket takjil secara langsung kepada seorang anak dan nelayan di atas kapal kayu, Jumat (27/2). Aksi humanis ini menjadi wujud kepedulian Polri dalam merajut silaturahmi dan berbagi keberkahan di bulan suci Ramadhan bagi masyarakat pesisir Makassar. (Foto: Dokumentasi Polsek Kawasan Paotere Makassar)




MAKASSAR – Di bawah langit jingga yang mulai meredup di ufuk Pelabuhan Paotere, deru mesin kapal nelayan perlahan melambat, bersahutan dengan debu ombak yang membasahi dermaga tua. 

Di waktu-waktu krusial menjelang azan Magrib berkumandang, Jumat (27/2), sebuah pemandangan menyejukkan hadir memecah rutinitas keras para pelaut. Bukan tentang penegakan hukum, melainkan tentang ketulusan yang dibungkus dalam sekotak takjil.

Ketulusan di Atas Gelombang

Bagi para nelayan yang menghabiskan hari-hari bertarung dengan badai, daratan adalah tempat pulang yang paling dinanti. Sore itu, kepulangan mereka disambut hangat oleh jajaran Polsek Kawasan Paotere dan Ibu-ibu Bhayangkari. 

Di sela-sela kayu kapal yang kokoh, tangan-tangan berseragam itu terulur, menyampaikan amanah rasa syukur dalam bentuk hidangan berbuka.

Ada sebuah harmoni yang indah saat jemari seorang polisi bersentuhan dengan tangan legam nelayan yang kasar karena jaring. Di sana, sekat-sekat formalitas luruh, berganti dengan senyum syukur yang tulus. Menjalankan ibadah di tengah laut tentu tidak mudah, dan kehadiran takjil ini menjadi oase kecil yang mengingatkan bahwa mereka tidak berjuang sendirian.

Manifestasi Cinta di Bulan Suci

Kapolsek Kawasan Paotere menuturkan bahwa kegiatan ini bukan sekadar rutinitas seremonial. Ini adalah bentuk pengejawantahan dari rasa kasih sesama hamba Tuhan di bulan yang penuh ampunan.

"Ramadhan adalah madrasah bagi kita untuk belajar peka. Di balik seragam ini, kami adalah saudara bagi para nelayan. Kami ingin memastikan bahwa ketika saatnya membatalkan puasa tiba, ada sedikit kebahagiaan yang bisa mereka nikmati, meski masih berada di atas dek kapal atau di tepian dermaga," ujarnya dengan nada yang tenang dan penuh empati.

Kegiatan ini menjadi refleksi bahwa tugas Polri tidak hanya menjaga raga, tetapi juga menyentuh jiwa melalui pendekatan yang humanis dan religius.

Senyum di Balik Letih

Wajah-wajah lelah para pelaut dan warga pesisir seketika berubah cerah. Bagi mereka, sekotak takjil bukan hanya soal pengganjal lapar, melainkan simbol perhatian yang mahal harganya. Ucapan doa dan terima kasih mengalir dari bibir-bibir mereka, membubung bersama aroma air laut yang khas, menciptakan suasana religius yang kental di pelataran Mako Polsek.

Di Pelabuhan Paotere sore itu, agama tidak hanya hadir dalam ritual sujud, tetapi juga dalam gerak tangan yang memberi. Sebuah bukti nyata bahwa di antara deru ombak dan kesibukan pelabuhan, cinta kasih masih punya tempat yang lapang untuk berlabuh. (One)

Tidak ada komentar