Di Balik Pintu Purnabakti: Ketika Pengabdian Polisi Menemukan Rumahnya yang Baru
Keterangan Gambar :
Prosesi Wisuda Purnabakti Polres Wajo 2025 di Aula Sandi berlangsung khidmat. Para personel yang menyelesaikan masa pengabdian berjalan melewati formasi Pedang Pora, menerima penghormatan tertinggi atas dedikasi mereka selama puluhan tahun.
Reporter: Sabri
Editor: Alimuddin
Di Ruang yang Menyimpan Jejak Langkah
WAJO, SULSEL — Sore itu, Aula Sandi tampak seperti lembaran waktu yang dipelankan. Tirai merah-putih berdiri tegak, menciptakan semburat warna yang melambangkan keberanian dan kesetiaan. Lampu-lampu menggantung teduh, menerangi setiap sosok yang hadir seolah mengajak mereka merenungkan perjalanan panjang yang telah mereka lalui.
Pada Jumat, 28 November 2025, di ruangan sederhana namun sarat makna itu, Polres Wajo menggelar Wisuda Purnabakti—sebuah ritual penghormatan bagi para bhayangkara yang telah melangkah hingga ke ujung pengabdian.
Mereka hadir bukan sebagai aparatur negara yang tengah menjalankan tugas, melainkan sebagai manusia yang, setelah puluhan tahun berjaga di garis depan, akhirnya tiba pada titik pulang.
Pedang Pora: Simbol yang Mengantar Langkah Sang Ksatria
Pedang-pedang terhunus setinggi bahu, membentuk terowongan yang memantulkan kilau samar, seperti sungai cahaya yang mengalirkan doa-doa diam. Para wisudawan melangkah perlahan melalui lengkung pedang itu. Setiap langkah adalah ingatan: tentang malam-malam panjang yang mereka jaga, tentang panggilan darurat yang tak mengenal waktu, tentang tugas-tugas yang menuntut keberanian lebih besar dari rasa takut.
Tak ada suara bising. Hanya ada nuansa yang seakan berbicara sendiri, menyiratkan bahwa hari itu bukan sekadar seremoni—tetapi sebuah perpisahan dengan dunia yang telah menjadi rumah kedua selama bertahun-tahun.
Sang Pemimpin Bicara: Kalimat yang Menjadi Pelukan Waktu
Di hadapan hadirin, Kapolres Wajo AKBP Muhammad Rosid Ridho, S.IK, berdiri di panggung dengan sorot mata yang mencerminkan penghargaan mendalam. Suaranya tenang, namun setiap patah katanya mengandung bobot emosional yang tak terucap.
“Pengabdian rekan-rekan bukan hanya catatan dalam arsip kepolisian,” ucapnya lembut,
“tetapi jejak yang tertanam dalam keamanan masyarakat. Purnabakti bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari babak baru yang juga mulia.”
Di sampingnya, Wakapolres Wajo Kompol H. Andi Syamsulifu, S.Sos., MH, serta para perwira utama lainnya menyimak dengan penuh hormat. Mereka bukan hanya menyaksikan prosesi; mereka sedang melepas saudara—sesuatu yang lebih personal daripada sekadar melepas kolega kerja.
Keluarga: Penjaga Senyap yang Tak Pernah Ditulis dalam Laporan
Deretan kursi di sisi kiri aula dipenuhi oleh para istri Bhayangkari. Balutan kerudung merah muda yang mereka kenakan memancar lembut, menyiratkan kehangatan yang tak pernah hilang meski di balik badai tugas.
Mereka tidak memanggul senjata, tidak berdiri dalam apel pagi, tidak hadir dalam operasi malam. Namun mereka adalah penjaga ketabahan. Mereka menunggu di rumah ketika hujan turun, ketika sirene berbunyi, ketika tugas memanggil. Mereka adalah rumah tempat para bhayangkara kembali menemukan dirinya, setelah hari yang panjang dan melelahkan.
Di baris depan, beberapa anak kecil turut hadir. Tatapan mata mereka penuh kebanggaan, meski mungkin belum sepenuhnya memahami makna pengabdian yang dijalani ayah mereka. Tapi kelak—di waktu yang lain, ketika mereka tumbuh dewasa—momen seperti inilah yang akan mereka ingat sebagai bagian paling indah dari sejarah keluarga mereka.
Aula Sandi: Ruang yang Menyimpan Kisah
Setiap sudut Aula Sandi seperti berbisik, mengingatkan pada ribuan cerita yang pernah terukir di dalamnya. Di sinilah rapat-rapat strategis berlangsung, di sinilah apel pagi dimulai, di sinilah tawa dan keluh kesah sesama personel bersandar satu sama lain.
Kini, ruang itu kembali menjadi saksi—kali ini untuk perpisahan.
Bukan perpisahan karena jarak, melainkan karena waktu.
Dan waktu telah memberikan keputusan yang adil: saatnya mereka beristirahat.
Ketika nama-nama dipanggil, ketika piagam diserahkan, ketika mata saling bertemu untuk terakhir kalinya sebagai rekan satu kesatuan, ruangan seolah melukis potret besar tentang apa arti pengabdian.
Jalan Pulang: Di Mana Pengabdian Menemukan Bentuk Baru
Pukul 15.20 Wita, acara resmi ditutup. Namun cerita para purnawirawan tidak berhenti di situ. Mereka akan kembali ke rumah dengan jadwal yang lebih tenang, dengan pagi yang dapat dinikmati tanpa terburu-buru, dengan waktu bersama keluarga yang dulu sering tergerus oleh tugas negara.
Ada yang mungkin kembali mengurus kebun atau sawah.
Ada yang mungkin menekuni hobi lama yang tertunda.
Ada pula yang sekadar ingin menikmati kehadiran matahari tanpa harus membawa HT di pinggang.
Tugas negara mungkin telah selesai, tetapi tugas kehidupan baru saja dimulai.
Karena purnabakti sesungguhnya bukan tentang berhenti bekerja—melainkan tentang memulai hidup.
Pengabdian yang Tetap Mengalir
Di luar Aula Sandi, langit Wajo tampak cerah. Seperti menyambut lembaran baru dari perjalanan para purnawirawan.
Seragam mungkin tidak lagi mereka kenakan.
Tetapi sikap, keteguhan, dan rasa tanggung jawab itu akan selamanya melekat—menjadi bagian dari diri mereka sebagai Bhayangkara sejati.
Dan hari itu, Polres Wajo bukan hanya melepas mereka—tetapi mengabadikan mereka dalam ruang kenangan yang tak akan pernah hilang dari sejarah institusi. (Sumber: Humas Polres Wajo)

Tidak ada komentar